Praktikum Konsep Kerja Layangan 11 IPA


ALAY = Anak LAYangan

ALAY = Anak LAYangan

Setelah mengumbar janji dari sepanjang semester lalu, akhirnya janji praktikum “Special” buat anak-anak kelas 11 IPA terealisasi juga hari ini, Selasa, 24 Maret 2015, 07.00-11.05 WIB, di kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia, Bumi, Tata Surya, Bima Sakti, Alam semesta. Membuat sendiri layangan dari NOL dan menerbangkan dengan tangan sendiri juga tentunya. Layangan yang sederhana dan berukuran kecil, berbahan rangka sapu lidi dan kantong plastik, serta diterbangkan dengan benang jahit. Sesederhana itu? Yup, tujuannya agar mudah dibuat dan aman saat diterbangkan.

"Mang" Lukas, begitu serius

“Mang” Lukas, begitu serius

Sesuai perjanjian awal, praktikum dilakukan seusai “membahas konsep dasar”. Buat siswa kelas 11 IPA, rekaman penjelasan tadi bisa diputar ulang di dreamclass.gnomio.com. Dan akhirnya…, momen yang ditunggu sampai. “Bawa barang-barang kalian ke lantai 6”. Langkah pertama yang harusnya dilakukan adalah membuat layangan dulu, berubah drastis di lantai 6. Bukannya membuat layangan, tapi waktu hampir setengah jam berlalu begitu indahnya dengan aktivitas menggulung benang jahit. Ck3x….

This slideshow requires JavaScript.

Rapi juga gulungannya :)

Rapi juga gulungannya 🙂

Setelah puas dengan aktivitas menggulung indah (beneran indah, lihat gambar di atas warna-warninya indah), kegiatan utama hari ini dilanjutkan. Membuat layangan. Sebagai guru yang berpengalaman membuat layangan semasa kecil (LAGAXxxx….), tentu saya memberikan demo singkat nan aman dalam membuat layangan murah dan sederhana.

Demo pun berlangsung dengan lancar aman damai tentram diiringi hembusan angin cepoi-cepoi di lantai 6 dan beberapa anak yang masih asyik menggulung benang. Setengah proses pun berlalu hingga akhirnya insiden yang sungguh teramat tidak diharapkan pun terjadi. Obat nyamuk yang sekiranya dimanfaatkan untuk menyambung plastik tanpa sengaja saya duduki. Sontak saya meloncat dari tempat duduk karena saat nyadar udah terasa panas. Terasa panas, artinya celana sudah berlubang.  Padahal ini koleksi celana hitam terbaru saya. Baru beberapa bulan maksudnya.

Insiden yang saya alami mungkin tidak seberapa jika dibandingkan kejadian berikutnya. Jari Anton, calon mahasiswa kedokteran penggemar “BaCuk”, terpotong cutter saat menyisik lidi. Sebagai calon mahasiswa kedokteran, Anton sungguh-sungguh menunjukkan nyalinya. Dengan santainya dan masih sempat berlenggak-lenggok ia berjalan tenang ke toilet, membersihkan darah yang menetes, dan mengobati lukanya. “Dagingnya kepotong pak, lucu  bergerak-gerak, dan terasa nyut-nyutan”, sempat-sempatnya dia berkata lucu.

Terima Kasih Pak Sukma

Terima Kasih Pak Sukma

Menginjak pukul 9 pagi, setelah melewati berbagai insiden dan  kebingungan di sana-sini, hehe… akhirnya beberapa layangan mulai jadi dibuat. Hal ini juga berkat bantuan dari Pak Sukma. Terima kasih untuk Pak Sukma yang menyempatkan diri singgah dan ikut membantu dalam proses pembuatan. Skill Pak Sukma layak diacungi jempol.

Bagi sebagian siswa, inilah pengalaman pertama mereka mencoba membuat layangan sendiri. Inilah juga pengalaman pertama mencoba menerbangkan layangan dan memainkannya.

Proses menerbangkan layangan pun dimulai. Kondisi angin yang kadang ada kadang tiada disertai arah tiupan angin yang masih berubah-rubah pada pagi hari menjadi tantangan tersendiri untuk menaikkan layangan. Bagi beberapa layangan, tantangannya malah bukan di angin, tapi ukuran layangan yang terlalu kecil dan berat bahannya yang tak seimbang. Maklum, yang buat belum pro.

Setelah mencoba dan mencoba lagi, beberapa layangan berhasil diterbangkan. Tuh buktinya ada di foto, layangannya kecil, kalau dak kelihatan, pakai kaca pembesar. Kalau masih dak kelihatan, ya sudahlah, percaya saja kalau layangannya beneran terbang.IMG_0025 (Small) Bagi yang belum berhasil membuat layangan atau pun belum berhasil menerbangkan, lain kali dicoba lagi, tapi ingat perhatikan aspek keamanan. Jangan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Tak terasa, 4 jam pelajaran pun berlalu, praktikum pun selesai. Dan akhirnya saya sempat shock sejenak melihat sampah-sampah yang bertebaran indah menghiasi lantai 6. Dalam posisi tertegun “kagum”, ini sih banyakan sampah yang dihasilkan dibanding layangan yang jadi. Tapi anak-anak punya pembelaan dengan mengutip kalimat dari sebuah iklan deterjen, “Tak kotor, dak belajar pak”. Sungguh kuat alibi mereka, hahaha…iyalah, asal sebelum pulang semuanya dibersihkan saja.

Pesan buat siswa-siswi kelas 11 IPA, semoga praktikum kali ini menjadi bagian memori indah dan menyenangkan kalian semasa SMA. Setelah lulus nanti, tantangan demi tantangan baru sudah menunggu di hadapan kalian. Tetap jaga semangat kalian, jangan mudah menyerah, dan “terbanglah tinggi”.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

3 thoughts on “Praktikum Konsep Kerja Layangan 11 IPA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s