Cinderella


289040Cinderella

 

Cinderella. Itu namaku. Nama yang teramat singkat namun hidup di sepanjang sejarah. Nama yang diberikan seorang wanita cantik bergelar ibuku yang mungkin tergila-gila dengan tokoh-tokoh dongeng dari negeri antah barantah. Atau pengharapan seorang ibu yang ingin kelak anak gadisnya bernasib serupa di ending cerita, bertemu sang pangeran dan hidup bahagia! Atau mungkin karena sisi kepujanggaan yang menuntunnya untuk berpuitis dengan perasaannya. Tapi, bisa juga karena sikap apatis dan keputusasaan seorang perempuan yang harus berjalan sendiri menghidupi tiga nyawa yang merupakan bagian dari dirinya. Entahlah!

 

Aku tak pernah menanyakan muasal namaku. Pada ibuku, terlebih pada kedua kakakku. Aku tak pernah merasa perlu tahu. Pun semenjak aku duduk di bangku TK hingga saat ini. Cinderella kecil terlalu lugu untuk memaknai namanya, terlalu larut dengan canda tawa Cinderella-Cinderella mungil lainnya, terlalu disibukkan oleh boneka barbie berambut merah dan film-film anime setaraf Candy-Candy, Lady Oscar, Rapunzel, maupun Frozen. Dan lagi-lagi hanya tertawa memamerkan barisan gigi-gigi mungilnya saat namanya menjadi tokoh dalam sebuah film yang ditontonnya.

 

Sewaktu usiaku dua belas tahun, aku menggilai komik-komik melankolis yang melambungkan mimpi seorang anak yang baru akan memulai masa remajanya. Yang tanpa disadari menggariskan angan menjadi sebuah ingin yang meletup-letup dan mengikrarkan sebuah kepastian kalau kelak akan benar-benar ada seorang pria, pemuda, pangeran, dan sejenisnya yang akan merengkuh seorang Cinderella dalam pelukannya. Kemudian memberikan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya. Sebuah penutupan cerita yang terus diyakini olehku.

 

Cinderella.

Kupikir aku tak terlalu buruk memakai nama ini. Aku mewarisi wajah ibuku, meski tak secantik dia. Kulitku cukup bersih untuk anak gadis seusiaku. Pertumbuhanku pun normal seperti yang lainnya. Aku tak terlampau bodoh sehingga layak untuk dijadikan bahan gunjingan bapak dan ibu guruku. Juga tidak teramat pintar sehingga mampu merenggut semua pujian dan mungkin juga cacian. Pokoknya, aku tak memiliki kekurangan yang melampaui batas. Itu yang kurasa. Kecuali, aku sedikit pendiam atau memaksa untuk jadi diam.

 

D-I-A-M. Diam adalah caraku untuk memenangkan amarah yang berusaha mengendalikanku.

 

“Amit-amit deh, Sir! Mending aku kerja sendiri aja daripada harus se-tim sama si saiko!” mulut mungil Sarah berbisik dengan volume yang sengaja dibesarkan ketika Pak Mario menugaskannya berkelompok denganku.

 

Tak hanya Sarah. Rubby, cewek yang super biasa yang dulu pernah menjadi teman kelasku semasa SMP pun seolah ikut-ikutan memasang wajah tak sudi menerimaku menjadi bagian darinya. Lebih tak elok lagi si Endang, yang jelas-jelas semua orang bisa mengakui otak maupun penampilannya berada jauh di bawahku, bahkan di bawah rata-rata makhluk di kelas kami ini, yang juga sering teraniaya menjadi bulan-bulanan teman-temannya, seolah-olah ikutan jijik jika mendengar namaku dikaitkan dengannya. Mirisnya, namaku pun sudah cukup terkenal, bukan, tapi tercemar di hampir satu sekolah ini bahwa si Cinderella memang ditakdirkan harus terzalimi dan dihindari. Layaknya wabah lepra saja!

 

Aku pernah marah. Aku mengamuk. Saat itu aku merasa benar-benar terluka. Teman-temanku dengan tidak berperasaan menginjak-injak harga diriku dengan membawa ibuku dalam pertengkaran kami. Aku benar-benar murka. Terlebih aku merasa wali kelasku terlalu lamban dan tak berpihak padaku. Waktu itu, aku ingin memberi pelajaran pada mereka semua, bahwa aku ada. Aku punya perasaan yang juga bisa terluka. Aku ingin mereka menyadari eksistensiku di tengah-tengah mereka. Aku mau mereka tahu bahwa selain diam dan menangis, aku juga dapat berteriak lantang.

 

Ibuku dipanggil karena kelakuanku. Aku di-skors­ tiga hari akibat memukulkan vas bunga ke wajah Bimo hingga darah segar mengucur dari hidungnya. Air mata ibu bersimbah diiringi nasihat-nasihatnya yang kunilai lebih ke arah memojokkanku. Ibu berulang kali dengan isak tangisnya hanya memintaku berjanji, tanpa mau mendengarkan pembelaan dan alasanku. Begitu pula teman-temanku. Tak ada alasan buat membenarkanku. Saiko. Itulah nama yang akhirnya diberikan buatku. Psikopat!

Aku memilih diam.

 

Aku sendiri. Dan terus sendiri. Datang, duduk, diam, pulang. Tak pernah aku turut tertawa lebar bersama kumpulan-kumpulan kecil di kelas. Tak pernah aku ikut asyiknya bercerita tentang kakak atau adik kelas yang tengah menjadi incaran. Tak pernah aku berbagi tentang Alehandro, Lee Min Ho, maupun tentang band-band korea yang sedang digandrungi saat ini. Tak juga aku pernah diajak mendiskusikan sekaligus memamerkan produk-produk baru yang jadi tren remaja saat itu. Aku sendirian. Duduk sendirian, belajar sendirian. Meski sesekali saat pembelajaran dalam kelompok ada pula teman satu timku, itupun setelah mendapat hardikan keras dari bapak maupun ibu guru kami. Dengan sangat terpaksa pastinya. Jangan pernah berharap ada keakraban, jarak yang dibangun sudah mendefinisikan bahwa aku tetap sendiri.

 

Tapi aku terlalu yakin dan mungkin telah terlanjur terdoktrin dengan komik-komik melow yang menjanjikan keindahan di akhir episod. Bahwa, semua cerita ini hanya bagian awal kehidupan seorang Cinderella sebelum akhirnya seorang pangeran mengulurkan jemarinya dan membawaku meniti babak-babak baru yang selalu kuimpikan.

 

Seorang pangeran! Aku menghendakinya sesegera mungkin.

 

Aku punya cinta? Ya! Cinderella punya cinta untuk seorang pangerannya.

Tommy, kapten basket di sekolahku sempat menyita mata dan perasaanku. Anak IPA2 ini telah menyeretku dalam buaian dan khayalan-khayalan yang tak bertepi. Sampai aku pun tak pernah keberatan untuk tetap seorang diri memojok di sudut kantin, berkamuflase dengan bayangan seorang putri jelita dan berharap seorang Tommy tersenyum, menyapa, dan mengajakku berbicara. Aku pasti akan tertawa, menertawakan wajah-wajah dengki para penindas yang sudah pasti merasa kalah!

 

Dan…

Tommy tetaplah Tommy! Bersinar di antara beberapa kepala aneka rupa yang mengitarinya. Tetap terlihat bersahaja di tengah obrolan bercampur tatapan kagum para fansnya, dan tetap hangat saat merangkul Vanesha, kekasihnya. Ya, Tommy hanya ada dalam imajiku. Dia tidak tersenyum apalagi menyapaku. Bahkan mungkin ia tak pernah mengenalku!

 

Aku mengejar pangeranku selanjutnya. Tentunya setelah mengumpulkan dan menata kepingan-kepingan hatiku yang tak utuh lagi karena rasaku pada Tommy. Kali ini adik kelasku. Zidane.

 

“Maaf…!”

Aku surut mundur sembari memegang keningku. Sedikit kuangkat kepalaku. Seorang pemuda berkulit putih bermata agak sipit menatapku sungkan. Aku bertubrukan dengannya saat buru-buru keluar dari perpustakaan.

“Maaf, Kak…!”

Aku belum sempat menjawab kata-katanya, ia sudah ditarik pergi oleh seorang temannya. Tapi aku sempat melirik petak nama yang tertulis di dadanya: Zidane Lie.

 

Aku tak mengenang Zidane Lie. Aku sudah melupakannya saat itu juga. Tapi, cowok berwajah mirip Iko Uwais itu hadir lagi beberapa minggu setelahnya. Kami berpapasan di tangga sekolah. Saat itu aku membantu Pak Herry, guru matematikaku membawakan buku-buku tugas. Kakiku tergelincir dan beberapa buku berhamburan di lantai. Baru aku akan mengerakkan tanganku, kulihat Zidane telah jongkok memunguti, menyusun, dan menyerahkannya kepadaku. Dengan tersenyum!

 

Zidane tersenyum padaku.

Kuhitung, nyaris dua tahun lebih aku menggunakan seragam abu-abuku di sekolah ini. Aku tak pernah ingat apa pernah di sepanjang waktu itu ada yang memberi senyum untukku seperti kali ini.

“Hati-hati, Kak…!”

Aku mengangguk. Masih bergumul dengan ingatan dan perasaanku.

“Aku juga pernah terpeleset di sini!” lanjutnya ramah.

“Makasih….”

“Zidane.”

Ia kembali tersenyum kemudian mengangguk dan meninggalkanku.

 

Sejak itu aku sering bertemu Zidane. Lebih tepatnya, aku yang selalu mencari alibi untuk bertemu Zidane. Di kantin, di parkiran sekolah, bahkan di koridor kelas saat aku hendak ke toilet. Aku selalu menyempatkan ekor mataku melirik Zidane yang duduk di urutan ketiga dari belakang. Aku juga pernah dengan over pede masuk ke kelasnya dengan berpura-pura meminjam kamus bahasa Mandarin, pada Zidane.

 

Zidane Lie. Aku yakin Zidane-lah yang dikirim Tuhan untuk menjadi pangeranku dan mengakhiri sosok ‘asing’ yang melabeli diriku selama ini. Hanya mungkin, Zidane belum menyadarinya. Dan aku berperan untuk mengingatkannya dan mewujudkan mimpi kami.

 

Aku memburu Zidane. Aku sudah mirip pemburu hantu di film Gostbuster. Aku tak pernah lelah. Mulai dari teman-teman perempuan di kelasnya, sampai pada sahabat terdekatnya, aku selalu ingin tahu tentang Zidane. Hobby hingga pemaksaan nomor teleponnya kulakukan. Dari coklat batangan sampai pada sebuah arloji yang cukup bermerek aku kirimkan buat Zidane. Mana pernah aku peduli dengan bisik-bisik penuh gunjingan dan pandangan mata aneh dari mereka. Niatku hanya satu, menyadarkan Zidane akan kodratnya bahwa dialah pangeranku!

 

Zidane menjauh. Pemuda keturunan Tionghua itu semakin menghindariku. Jika aku menghampirinya di kelas, bergegas ia sembunyi di antara teman-temannya. Di kala berpapasan di satu tempat, Zidane berpaling dan berpura-pura tak melihatku. Aku nekat menelponnya. Ia malah menggantinya dengan nomor baru.

 

Satu kali, aku kesal dengan sikapnya. Aku nekat menunggunya di parkiran, di samping motor besarnya. Zidane terkejut, ia tak bisa melarikan diri lagi dariku. Kutarik lengannya. Kuminta dia mendengarkan penjelasanku.

 

“Kamu tidak bisa bersikap tak adil seperti ini, Zidane! Apa salahku?”

Zidane menepis tanganku.

“Apa salah kalau aku ingin menjadi teman dekatmu? Apa berdosa kalau aku ingin menjadi bagian dari kisahmu?”

“Tolonglah, Kak. Tolong kakak jangan ganggu aku lagi. Aku mohon.”

Zidane menghiba tapi wajahnya terlihat kesal.

“Tidak!” aku menggeleng keras. “Tidak akan pernah! Karena aku tak punya alasan untuk itu!” aku berteriak lebih keras lagi.

 

Aku berusaha kembali menggapai lengan Zidane. Aku ingin ia tahu akan pengharapanku yang besar padanya. Zidane berkelit. Wajahnya berubah. Kali ini ia tampak marah. Tapi aku tak peduli.

Zidane undur. Matanya yang sipit membuka lebar. Ia menatapku, bukan, tapi menantang tatapanku.

“Jangan pernah ganggu aku lagi, gadis saiko!” tandasnya kasar.

Telunjuknya mengacung ke arah wajahku. Bingkai rupanya tak selembut Zidane yang kukenal. Aku tersandar saat ia dengan kasar mendorongku. Menarik motornya, memutar kopling, dan melaju meninggalkanku. Tak dihiraukannya suaraku yang parau memanggil namanya. Zidane. Ternyata ia tak berbeda dari yang lain.

***

Untuk kali kedua ibuku dipanggil ke sekolah. Tapi bukan karena ulahku kembali mematahkan hidung salah satu temanku. Ibuku dipanggil karena nilai akademikku yang jauh merosot. Angka-angka merah bertengger manis di raportku.

 

Entah apa yang ibu dan walikelasku bicarakan. Kulihat ibuku mengangguk-angguk dengan sorot mata sedih. Untuk selanjutnya, rentetan kalimat acak berintonasi sumbang menguliti telingaku hingga nyaris satu jam. Aku tetap diam menghargai seorang ibu dengan segala syair-syair yang dilantunkannya dan sesekali mengangguk jika lagi-lagi ia memaksaku berjanji.

 

Janji manis pernah pula kuucapkan pada Pak Satrio, guru kimia di kelasku yang sekarang. Ia termasuk satu guru yang kuidolakan. Bukan karena wajahnya, seperti kebanyakan teman-temanku mengidolakan guru-guru lainnya. Tapi karena aku merasa dekat dengan Pak Satrio. Padanya aku bisa bercerita tentang diriku, berkisah tentang kekalutan dan juga mimpi-mimpiku. Ia menanggapiku. Ia meladeniku. Ia peduli padaku.

 

Pak Satrio sering mengorbankan jam istirahatnya untuk sekedar menemaniku dan mendengar cerita-ceritaku. Dan padanyalah aku lepas menumpahkan isi hatiku.

“Lala… jangan sampai kamu dikalahkan dengan kondisimu. Itu yang penting! Kalaupun teman-temanmu tak menerimamu, itu bukan masalah. Tokh, dunia masih terbuka lebar untuk kamu membentangkan sayapmu. Akan banyak tangan yang kelak akan menarik dan menyambutmu.”

Ia memegang bahuku dan melanjutkan ucapannya.

“Semua tergantung kamunya. Tergantung kita.”

Aku menatapnya dalam. Membenarkan ucapannya.

“Tapi, tetap saja aku merasa sangat sial karena mereka tak menghendakiku, bahkan mencaciku tanpa sebab yang bisa kumengerti!” ketusku.

“Sekalipun aku mengubah diriku, mereka tetap akan meludahiku!”

Lelaki di depanku itu menatapku. Seakan ia ingin aku menjadikannya tameng kekuatan bagiku.

“Mengapa kau harus membesarkannya sebagai masalah, Lala?”

Aku beringsut. Duduk terpekur sembari menopang dagu dengan kedua tanganku. Pak Satrio memang tak pernah menjadi aku, tentu ia tak merasa sakitnya menjadi bahan bulian.

“Justru itulah yang akan mendewasakanmu, Lala. Teman-temanmu sebenarnya telah memberimu kekuatan untuk kerasnya hidup yang mungkin dan akan kamu hadapi kelak.” Aku masih mendengarkan nasihatnya dalam diamku. Mungkin Pak Satrio terlalu sempurna sehingga selalu memandang positif apa yang dialaminya.

“Aku tak bisa sendiri, Pak!” aku pesimis.

Kulihat alis Pak Satrio sedikit menyatu. Kali ini ia memegang kedua sisi pipiku, menarik wajahku untuk menghadap padanya.

 

“Lihat Bapak! Kamu tidak pernah sendiri, Lala. Ada Bapak. Ada kami, guru-gurumu. Ada mamamu, kakakmu. Juga ada teman-temanmu yang mengartikan keberadaanmu dengan cara yang berbeda. Kamu tidak sen-di-ri!”

Aku tercekat. Pak Satrio benar. Aku tidak sendiri, hanya mungkin aku yang selalu merasa sendiri. Setidaknya, di depan mataku, aku punya ibu dan kakak-kakak yang masih memperdulikanku. Mendadak aku merasa Pak Satrio menjelma menjadi ibu peri baik hati yang berusaha mengangkat kesadaranku dan mengarahkanku mengubah mimpi menjadi sesuatu yang nyata.

 

“Masa Cinderella Bapak bisa kalah dengan saudara dan ibu tirinya? Siapa dong yang bakalan pakai sepatu dan berdansa dengan pangeran?” selorohnya.

 

Deg!

Jantungku berdegup. Mungkinkah Pak Satrio bukan sekedar ibu peri? Apakah lelaki berusia empat puluhan ini justru jelmaan sang pangeran impianku? Haruskah….

Ah! Aku menggeleng keras. Apapun dan siapapun Pak Satrio, aku tak akan pernah menyia-nyiakan setiap kata dan waktu yang telah dia berikan buatku. Itu janjiku.

***

Itu aku delapan tahun lalu.

Kini, aku telah menjadi Cinderella yang sesungguhnya. Terlalu sibuk untuk menjadi gadis yang hanya menangisi nasibnya. Tak punya cukup kesempatan untuk sekedar membuang waktu dengan bercanda, bergunjing, tertawa, bahkan untuk cinta.

 

Ada banyak yang menungguku. Catatan panjang manager-kulah yang terampil mengatur waktuku: di mana, untuk, dan dengan siapa aku hari ini.

Aku kini seorang bintang!

 

Ibuku, di balik Lamborghini Aventador merahnya pasti tersenyum bangga karena ia tak pernah salah memberikan nama Cinderella buat buah hatinya. Seolah ia tahu, takdir Cinderella, si upik abu pasti akan menjadi seorang putri, meski tanpa pangeran. Ya, aku memang belum menemukan pangeranku. Tapi aku tahu, terlalu banyak pangeran-pangeran di luar sana yang bersaing untuk memenangkan hatiku. Berharap seorang Cinderella memilihnya dan menjadikannya pangeran. Aku tak punya waktu!

 

End

 

(Oleh: Tursih) 🙄

Advertisements

3 thoughts on “Cinderella

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s