Cerpen#01 – Dua Sisi


Dua Sisi

Bruk!

Bu Saras meletakkan buku-buku yang didekapnya. Setengah membanting. Begitu pula ia membating punggungnya di kursi.

“Ini keempat kali anak itu berulah di kelasku!” sungutnya kasar.

“Aku tak akan mengampuninya!”

“Mirriam lagi, Bu?”

“Siapa lagi kalau bukan gadis bengal itu.”

Bu Saras masih tampak kesal. Kerut wajahnya kian kentara.

“Ibu sudah kasih tau Bimo?” Bu Pratiwi yang asyik membolak-balik katalog perkakas rumah tangga ikut menimpali tanpa mengalihkan matanya, seolah ia telah biasa mendengar keluhan serupa.

Tak ada jawaban dari Bu Saras. Ia bangkit, melangkah lebar menuju meja Pak Bimo yang tampak asyik mencoret-coret koreaksiannya.

***

Pagi menyambutku melalui sapa dan wajah ceria siswa kelas X. Aku tersenyum ramah membalas kehangatan sapa mereka. Mimik segar dan penuh semangat seakan mengalahkan sinar mentari yang menerobos rimbunan akasia dan mengintip sebentuk kehidupan dari celah-celah jendela. Memberikan gairah tersendiri bagiku untuk terus mencoba memenuhi dahaga siswa-siswiku ini terhadap pemaknaan sesungguhnya atas sebuah pengetahuan. Benar-benar pagi yang indah!

Selang beberapa saat, aku pun mulai asyik bergelut dengan rutinitasku diiringi aneka tatapan dan sejuta pikiran di masing-masing kepala anak didikku itu. Satu dua telunjuk mulai terangkat ketika aku mengajukan pertanyaan. Aku pun meluaskan pandanganku untuk mengetahui keantusiasan mereka mendengarkanku.

“Mirriam…”

Suaraku sontak menerobos bibirku tanpa dikomando. Gadis berkulit bersih itu tampak kaget. Sejenak matanya menyapu ruangan memandang beberapa temannya sebelum menatapku dengan pandangan penuh tanya. Ia tak mengacungkan jari, tapi aku menunjukknya. Mungkin itu yang membingungkan benaknya.

“Mirriam…”

“Aku belum menemukan jawaban, Bu!” jawabnya santai diiringi kedikan bahunya.

Ia masih menatapku dengan bola mata beningnya. Aku tersenyum kecil. Kakiku bergerak mendekati gadis berparas cantik yang tanpa berdosa memamerkan wajah innocent-nya itu.

“Ibu lihat kamu senyum-senyum sendiri sejak tadi,” selidikku agak pelan.

“Kamu memikirkan sesuatu?”

Mirriam menatapku sekilas. Kemudian jemarinya bergerak membalik-balik buku di depannya. Tak jelas apa yang dicari gadis itu. Hanya suara gesekan kertas yang memberi irama di keheningan kelas kala itu.

“Ibu memperhatikanku?”

Aku mengangguk meski ia tak melihatku.

“Karena kamu juga memperhatikanku dengan senyum-senyummu itu.”

Mirriam mengangkat kepalanya menatapku. Wajah sempurna dengan sebentuk mata indah itu tampak berusaha memaknai sorot mataku, mencari arti dari tiap tekanan suaraku. Keningnya sedikit berkerut. Hanya sesaat.

“Bukan hal serius, Bu..”

“Tapi pasti menyenangkan,” tukasku cepat.

Mirriam diam. Kepalanya menunduk menekuri jajaran kalimat yang berbaris rapi di buku catatannya, seakan menjadi jembatan atas pikirannya yang mengawang entah ke mana. Aku yakin ia tak sedang membaca. Pelan kusentuh bahunya.

“Ibu selalu menyukai hal-hal yang menyenangkan. Termasuk saat kalian memperhatikan ibu,” lanjutku dengan sedikit mengeraskan volume suaraku.

Mirriam mengangguk pelan.

“Aku selalu memperhatikan Ibu!”

Suaranya setengah berbisik menyapu telingaku. Ada ketulusan dalam kalimatnya. Tanpa dikomando kepalaku membentuk sebuah anggukan, membenarkan ucapan gadis di depanku ini. Mirriam memang tak pernah berulah di kelasku, seperti yang dilakukannya pada Bu Saras maupun beberapa guru lainnya. Ia pun tak pernah menjadikan toilet sebagai alasan perebut waktu pertemuannya denganku. Dan Mirriam juga tak pernah sembunyi atau melarikan diri menghindari jamku. Lagi-lagi aku tersenyum. Itu sudah cukup bagiku.

***

“Mirriam berulah lagi di kelasku. Keterlaluan anak itu. Kalau bukan karena Pak Bimo yang memohonku memberinya kesempatan, tak sudi aku melihatnya di kelasku!”

“Apalagi kelakukannya, Bu?” Pak Marwan menyela keluhan Bu Saras yang menyala-nyala. Ia memandang prihatin pada wanita di depannya.

“Kurang ajar betul dia. Aku diceramahinya,” nada Bu Saras kesal.

“Aku hanya memintanya membaca puisi. Dia menolak. Dibilangnya aku memaksakan kehendak. Mau jadi apa anak itu. Pembangkang!” suara Bu Saras kian meninggi.

“Yang membuat pitamku naik, dia bilang begini: aku tak bercita-cita jadi penyair, Bu. Aku juga tak berminat ikut lomba apapun. Lagipula tak ada kaitannya duniaku nanti dengan puisi-puisi ini. Itu katanya. Kalau tak ingat dia anak orang, sudah kugampar dia.”

Raut kesal dan muak tampak meliputi Bu Saras. Gurat-gurat ketuaannya terlihat mulai melumuri wajah tegangnya yang renta dimakan usia. Wanita berusia nyaris lima puluh tahun itu tampak sedikit tersengal-sengal menyampaikan cerita. Mungkin karena emosinya yang nyaris tumpah.

“Usir saja, Bu. Ngapain juga kita harus terganggu dengan satu anak seperti dia,” Bu Rossi yang sedari tadi membisu angkat bicara. Terbayang di kepalanya bagaimana Mirriam pernah menebar benih kejengkelan di jamnya. Alasan masuk akal gadis cantik itu mengenai bukunya yang habis dan akan membeli ke koperasi membuatnya ditegur Pak Waskito, kepala sekolah, yang mendapati Mirriam justru bersantai di kantin saat pembelajaran berlangsung.

“Itu yang kulakukan.”

Bu Saras menarik napas sebelum melanjutkan, “Tau apa yang dilakukannya?”

Mata senja Bu Saras berpindah dari satu rekan ke rekan lainnya berharap keingintahuan dari kepala-kepala di ruangan itu.

“Gadis bengal itu dengan tidak berdosa berkata begini sebelum meninggalkanku,” Bu Saras berdiri. Sekali lagi matanya menatap rekannya satu persatu untuk memastikan ia mendapat perhatian. Kemudian, ia memperagakan tokoh yang tengah dibicarakannya.

“Saya di sini karena saya menghormati Ibu juga Pak Bimo. Dan saya keluar bukan karena keinginan saya. Ibu yang meminta. Trus dia ngeloyor pergi. Tidak tahu adat! Aku tak bisa diamkan. Aku akan laporkan pada Pak Kepsek!”

Beberapa kepala tampak menggeleng-geleng seakan turut mengalami apa yang dirasa Bu Saras.

“Anak itu sudah berkali-kali dipanggil ke kantor BP. Ibunya pun sudah pernah dipanggil. Jangan-jangan orangtuanya pun sudah tak sanggup mengaturnya!” Bu Pratiwi yang baru saja datang langsung nimbrung sambil meletakkan punggungnya. Tampaknya ia sudah sangat hafal dengan ekspresi Bu Saras.

“Itulah kalau anak-anak kurang perhatian, kurang kasih sayang. Hari-harinya dijejali uang dan uang!”

Bu Saras mengangguk-angguk membenarkan ucapan Bu Pratiwi. Ada sirat kepuasan di mata wanita itu bertubuh gempal tersebut. Bu Pratiwi, teman-temannya mendukungnya.

“Hallah… nonsen itu semua! Dasar anaknya aja yang nggak tahu diuntung,” tukas Bu Rossi. Ia mencibirkan bibirnya yang bersenti agak tebal.

“Dulu, Bapakku cuma kuli. Jangankan buat beli aneh-aneh kayak anak zaman sekarang. Makan aja susah. Nggak punya waktu buat bermanja-manja. Ketemu aja tiga bulan sekali. Trus buat bayaran sekolah aku harus bantu nyetrika di tetangga sebelah. Nggak ada tuh, kasih-kasihan, sayang-sayangan. Buktinya? Aku, kita-kita, bisa kok hormat sama orang tua, sama bapak ibu gurunya.”

Rentetan memori Bu Rossi menggema memaksakan pemikiran pada tiap orang yang hadir di ruangan itu. Bu Saras terus mengangguk-angguk. Kian membenarkan.

Ku lihat Pak Marwan berdiri. Lelaki muda yang kerap disapa Mr. Einstein itu bergerak menuju dispenser. Meletakkan cawan bundarnya dan memencet tombol air. Terdengar suara tegukannya sebelum terdengar suaranya menimpali Bu Rossi.

“Zamannya kita beda, Bu, sama anak-anak. Lagipula tidak semua orang punya kekuatan seperti yang Bu Rossi punya.”

Alis Bu Rossi bertaut. Kulit dahinya berlipat. Air mukanya berubah.

“Bapak ini gimana? Saya tahu tidak semua anak-anak itu sama. Mereka macem-macem. Zaman itu, mau dulu kek, sekarang kek, nanti keknggak ada ngaruhnya. Tergantung sifat kitanya. Anak-anak sekarang ini sudah terjangkit dehidrasi moral. Nggak punya sopan santun!”

Pak Marwan hanya tersenyum melihat Bu Rossi yang makin berapi-api. Ia kembali ke bangkunya tanpa suara. Mungkin ia malas memperuncing masalah. Beberapa mata tampak saling berpandangan. Ada yang ikut-ikutan tersenyum dan ada juga yang fokus serius memperhatikan Bu Rossi dengan semua argumentasinya.

Tiba-tiba Bu Pratiwi menyikutku yang duduk tepat di sampingnya. Aku yang sejak tadi hanya diam dan menjadi pendengar yang baik sedikit terperanjat. Terlebih saat suara lembut Bu Pratiwi terdengar begitu mengganggu gendang telingaku.

“Sepertinya cuma Ibu Val yang tak pernah kedengaran bermasalah dengan Mirriam.”

Aku mengangkat kepalaku sedikit, bingung atas ekspresi yang harus kutunjukkan. Mirriam memang tak pernah bermasalah denganku. Ia selalu hadir, mengerjakan tugas yang kuberikan, dan selalu menuruti apa yang kuintruksikan. Aku pun tak pernah mempersoalkan nilai-nilainya karena menurutku masih di ambang batas kewajaran. Lalu dari sisi mana aku harus mempersalahkan seorang gadis bernama Mirriam itu selain mendengarkan cerita keluh kesah beberapa teman seperjuanganku di ruangan ini.

“Mungkin Bu Val tak mau berurusan dengan anak itu. Baguslah…”

“Saya memang tak pernah punya masalah dengan Mirriam…” suaraku setengah berlari dari mulutku. Lagi-lagi tanpa terkontrol. Mendadak aku kesal dengan perempuan berparas cantik di sampingku ini yang telah melibatkanku dalam pergunjingan mereka. Aku merasa seakan-akan ia sengaja memancing keruh suasana. Wajar saja Bu Pratiwi sering disebut si biang gosip dari bisik-bisik yang sering kudengar. Saat ini pun aku sudah merasa telah membuktikannya.

“Hebat. Baguslah…”

Aku kesal memandang senyum nyinyirnya, terasa mengejek.

“Maksud saya… Mirriam belum pernah membuat masalah di jam saya. Semoga saja tidak.”

“Ibu jangan takut menyampaikan apapun tentang Mirriam. Jangan karena ibu guru baru, lantas ibu menelan sendiri masalah ibu. Ibu nanti yang diinjek-injek,” cerocos Bu Rossi dengan nada menggurui. Aku melongo.

Entah apa yang sebenarnya diingini ibu-ibu di samping maupun di depanku ini. Mirriam-kah atau aku? Aku merasa mulai terdikte. Aku pun memilih diam, cara sama yang dilakukan Pak Marwan untuk menutup cerita.

***

Bel pergantian jam berdentang. Kukemas semua buku-bukuku. Aku segera beranjak meninggalkan kelas XI IPS setelah terlebih dahulu membalas salam mereka. Pun, kulihat Pak Martin telah berdiridi koridor kelas menanti giliran. Aku menyapanya sejenak lewat senyuman.

Lorong kelas sepi. Semua kembali khusyuk mengikuti irama dari masing-masing kelas mereka. Kelasku tadi memang berada hampir di ujung bangunan lantai IV hingga mataku pun bebas menikmati pemandangan yang nyaris sama di setiap ruangan tersebut sembari mengingat-ingat hal yang harus kulakukan selanjutnya.

Baru kakiku akan menginjak anak tangga pertama, kulihat Mirriam melangkah lebar menujuku.

“Mirriam…?”

Mirriam menghentikan langkahnya, persis di depanku. Kepalanya mendongak melihatku. Ia mengembangkan senyum memamerkan lesung pipi yang menambah manis paras eloknya.

“Siang, Bu Val…”

“Darimana?”

Masih tersenyum Mirriam mengangkat selembar amplop yang memang sejak tadi akupun melihatnya.

“Dipanggil kepsek,” ucapnya datar.

“Mirriam, kamu…” kuputus cepat kalimatku. Kutatap wajahnya. Aku tak ingin Mirriam berpikiran aku terlalu mencampuri urusannya. Air mukanya tak berubah. Datar.

“Maaf, Bu. Aku permisi mengambil tasku. Aku harus pulang.”

Aku tak mencegahnya. Kubiarkan ia berlalu dari hadapanku. Sementara di kepalaku dipenuhi tanda tanya: ada apa, mengapa, dan dengan siapa Mirriam kembali berulah. Mendadak aku ingin tahu.

Aku mendekati Mirriam yang sedang bersiap menstarter motor maticnya. Aku memang sengaja menunggunya di parkiran. Kebetulan juga jam mengajarku telah rampung siang ini. Niatku mengoreksi tugas-tugas yang menumpuk pun sejenak kuabaikan. Aku penasaran. Aku ingin tahu tentang Mirriam.

Saat mata indah gadis cantik itu menatapku, sempat kupikir dia merasa terganggu dengan kehadiranku. Namun Mirriam justru kembali memamerkan senyumnya. Ia memutar mati kunci motornya.

“Ibu Val pulang juga. Tidak ngajar?”

Aku mengangguk kecil.

“Mirriam…, kamu tidak apa-apa kan?”

Mata Mirriam menyipit. Aku tahu ia sedang menilikku, kulihat itu dari rona rupanya yang berubah. Pasti kali ini dibenaknya menganggapku ibu guru yang sok tahu dan selalu mau tahu. Pasti dia berfikir aku guru kepho. Biarlah.

Mirriam membuka helm purple bergambar mickey mouse yang membungkus kepalanya. Ia membenarkan duduknya kemudian meloloskan tas ransel dari punggungnya. Mirriam menyodorkan amplop yang diambil dari dalam tasnya padaku.

“Apa ini?” tanyaku berpura-pura.

“Ibu baca saja sendiri.”

Aku mengangkat wajahku menatapnya, menilik sesuatu yang tersembunyi dari iris hitam di manik mata indahnya. Aku berpikir agak lama sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetahui sendiri isi amplop itu. Aku membacanya.

“Kamu…”

“Cuma tiga hari, Bu,” tukasnya hambar.

“Tapi waktu singkat itu cukuplah untuk beristirahat bagi mereka yang selalu terganggu dengan adanya aku, Bu.”

Aku kaget dengan ucapannya. Tak ada sesal maupun khawatir dari warna suaranya. Mirriam diskor. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan surat peringatan. Ini yang kedua. Mendadak bayangan Bu Saras, Bu Rossi, dan Bu Pratiwi bergantian melintas di kepalaku.

Aku tak bersuara. Kulipat dan kumasukkan kembali surat tersebut di amplop kemudian menyerahkannya kembali pada Mirriam. Nasihat ataukah ungkapan keprihatinan yang harus kusampaikan pada gadis ini? Belum mampu kupikirkan.

***

Malam minggu.

Mas Pras, pacarku, tak bisa mengapeliku lagi. Ini sudah pekan kedua aku tak berjumpa dengannya. Katanya sih ke luar kota urusan kerjaan. Aku berusaha maklum. Lagian siang tadi aku membawa satu tas full koreksian yang belum sempat kuselesaikan. Malam minggu pun kugunakan untuk mencorat-coret hasil kerja anak didikku.

Jeda sejenak sekedar meluruskan punggungku yang sengal. Nyaris separuh tumpukan buku telah selesai kuponten. Kuraih remote control dan memindah chanel TV. Serial film India diiringi lagu cintanya sedikit mem-fresh-kan kepenatan otakku. Film romantis.

“Bu, orang dewasa itu aneh, ya?” tiba-tiba aku ingat obrolanku dan Mirriam beberapa waktu lalu di kantin sekolah.

“Maksudmu?”

“He..he…” Mirriam terkekeh sembari mengaduk-aduk es jellynya. Sesekali lidahnya memainkan gumpalan jelly di ujung pipet.

“Kadang aku merasa aneh, Bu. Mereka selalu senang mengekang kebahagiaan orang lain. Anak-anak, maksudku, kami kan juga perlu bahagia.”

Keningku mengerinyit.

“Ya… contohnya sekolah ini. Pacaran kok dilarang.”

Aku mulai paham yang dibicarakannya. Aku tersenyum.

“Bukan pacarannya yang dilarang, Mirriam. Caranya…”

“Iyalah…” ia mengalah. “Aku harus ditegur dan dihukum hanya karena berciuman. Bukan hal yang serius,” ucapnya enteng.

Aku menyeruput sisa terakhir es capucinoku. Aku ingat, beberapa minggu lalu, gadis di depanku ini sempat kepergok berciuman di belakang kantin dengan Jacky, siswaku juga, yang kutahu belum genap seminggu menjadi pacar Mirriam. Mereka mendapat sanksi: mendapat peringatan keras dan dipanggil kedua orang tuanya. Lucunya, lagi-lagi Mang Ucup dan Mbak Sri, tukang kebun dan pembantunya yang menjadi wakil kedua orang tua Mirriam karena papa mamanya tak ada di tempat. Benar-benar keluarga yang sibuk.

“Caranya itu yang dilarang. Ibu rasa kamu sudah mengerti,” ulangku.

“Sah-sah saja berpacaran. Tapi harus beretika. Lebih baik lagi kalau kita saling memotivasi bukan malah dieksploitasi,” selorohku.

“Ibu mirip Pak Daud,” Mirriam cekikikan.

“Bentar lagi muncul deh dalil-dalilnya…”

Aku ikut terkekeh mendengar guyonannya tentang Pak Daud, guru Agama di sekolah ini.

“Emangnya ibu ‘gak pernah berciuman…”

Aku memonyongkan mulutku, bergaya cemberut atas godaannya. Kembali gadis cantik ini cekikikan.

“Maaf, Bu. Maaf. Maksudku… Ibu dan pacar Ibu pasti saling mencintai. Jadi saling berbagi dan saling memotivasi,” ralatnya. Ia masih terus cekikikan.

Anak ini benar-benar sok tahu, pikirku. Kapan pula aku pernah bercerita tentang kekasihku padanya. Bahkan, ayah ibuku di kampung pun belum pernah tahu tentang Mas Pras. Tapi biar sajalah, tokh bukan hal yang patut didebatkan.

Aku mengacungkan jempol.

“Tentu. Saling mencintai. Jadi yang ada di hati dan kepala kita itu lebih bertanggung jawab. Lebih menghargai, menyayangi, dan saling memotivasi seperti yang kamu bilang tadi. Bukan malah melakukan hal yang aneh-aneh dengan alasan cinta,” cerocosku menggurui.

Mirriam mengangguk-angguk. Entah karena khotbahku cukup menyentuh atau ada hal lain tengah bermain di pikirannya, aku pun tak tahu. Ia memandangku.

“Papa mamaku, mungkin mereka tak saling cinta.”

Ada nada lain dari suaranya juga kilat cahaya matanya. Hanya sekejap. Kemudian Mirriam kembali tertawa. Aku masih tertegun dan belum sempat mencerna utuh ucapannya ketika ia berbisik pelan.

“Bentar lagi bel, Bu. Ntar aku dijadiin penjaga pintu lagi sama Bu Rossi.”

Aku mengangguk sembari bangkit dan mengikuti langkah kakinya. Masih penasaran.

***

Aku setengah berlari menuju kantor guru. Kepalaku celingukan mencari Pak Bimo. Ia tak ada di bangkunya. Aku bertanya seadanya pada Sir Garin yang kebetulan lewat di hadapanku dan dijawab hanya dengan gelengan. Mungkin di ruang musik, pikirku. Biasanya Pak Bimo memanfaatkan jam kosong atau waktu istirahatnya untuk bermain gitar. Beliau memang gitaris grup band guru di sekolah kami.

Bergegas aku ke ruang musik. Benar saja, Pak Bimo sedang asyik dengan gitarnya sembari bibirnya menyenandungkan lagu Camelia-nya Ebiet G. Ade.

“Pak Bimo.”

Pak Bimo mengangkat kepala mendengar suaranya dipanggil.

“Sebentar, Bu. Tanggung.”

Kubiarkan lelaki muda itu menyelesaikan bait terakhir lagunya. Mimik mukanya begitu menghayati. Suara Pak Bimo berat namun bening ikut menghanyutkanku lewat lagu yang memang terdengar nyaman di telinga.

Lewat sentakan fibra panjangnya, Pak Bimo mengakhiri keasyikannya. Ia beringsut meletakkan gitarnya.

“Ya, Bu?”

“Maaf, Pak. Saya mau tahu tentang Mirriam,” ucapku tanpa basa basi.

Pak Bimo walikelas Mirriam. Sudah lima hari ini, Mirriam absen, tanpa keterangan. Aku pernah menghubungi ponselnya tapi tak ada jawaban. Aku juga menanyakan ke beberapa guru yang mengajar, tapi tetap saja nihil. Aku yakin Pak Bimo lebih banyak tahu.

“Saya sudah menghubunginya. Yang ngangkat ya pembokatnya. Katanya Mirriam sedang pergi dengan papa mamanya…”

“Lho kok? Nomor ortunya gak punya ya, Pak!” aku penasaran.

Pak Bimo tertawa kecil.

“Bu… Bu. Bapaknya itu orang super sibuk. Tak punya waktu ngangkat telpon kalau nggak ada untungnya.”

“Tapi ‘kan mamanya ada,” kejarku.

“Orang kaya itu kadang aneh-aneh, Bu!” Pak Bimo kembali tertawa.

“Siapa itu pengacara kondang yang kaya banget….Oh iya, Hotman Paris. ‘Kan ngakunya gak bisa pakai laptop. Kali aja mamanya Mirriam gak bisa pakai hape…”

Aku tak menggubris kelakar Pak Bimo.

“Jadi keterangannya apa, Pak.”

“Tanpa keterangan. Alpa,” jawab Pak Bimo ringan. Jemarinya kembali menggapai gitar dan kembali memangkunya.

“Melancong kan bukan bagian dari izin atau sakit. Nanti Mirriam masuk, juga jelas keterangannya.”

“Terima kasih, Pak!”

Aku meninggalkan Pak Bimo dan gitarnya tanpa permisi, juga tanpa mendapat jawaban. Kembali terdengar dentingan harmonis senar gitar mengiringi suara merdu Pak Bimo. Kali ini aku tak menangkap lagu yang dinyanyikannya. Kepalaku penuh tanda tanya.

***

Kudapati Mirriam di pojokan kantin. Ia duduk sendiri, asyik dengan ponselnya. Ini hari pertama ia masuk sejak acara ‘liburan’ yang dimaksud Pak Bimo kemarin. Aku menarik kursi di depannya dan langsung menempati tanpa dipersilahkan.

“Ibu Val…” Mirriam sedikit kaget dengan kehadiranku.

“Kamu kemana saja? Kami sempat kehilanganmu.”

Mirriam menyipitkan matanya. Senyumnya mekar. Ia menyusun tangannya di depan dada. Matanya terus memandangku.

“Hanya Ibu, mungkin.”

Aku tertawa kecil. Mirriam pun ikut tertawa. Ada getar kerinduan menyisip di relung terdalam hati kecilku. tentang senyumnya, tawanya, sikapnya. Semua. Tentang dirinya! Ah, ternyata aku memang merindukan anak ini, bantinku.

“Sudah bertemu Pak Bimo?” selidikku.

Mirriam mengangkat bahunya. Tak acuh.

“Mungkin pas masuk, baru interview-nya, Bu. Mending ibu duluan deh, keburu keabisan pertanyaan lho…” Mirriam pasang aksi. Ia menegakkan duduknya, mengangkat sedikit dagunya, dan memasang tampang sok seriusnya. Mirip calon pekerja yang siap diwawancarai.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Anak ini sudah lebih dulu membaca keingintahuan di mataku. Kutatap wajah ayunya.

“Mirriam…,” aku tercekat. Jemariku bergerak begitu saja mengusap pipi Mirriam. Pelipis kirinya sedikit bengkak.

Mirriam tampak kaget. Ia menarik wajahnya dan menahan tanganku.

“Hanya jatuh, Bu.”

Aku menatapnya. Lekat. Aku merasa tak yakin.

“Terpeleset di toilet. Aku kurang hati-hati,” suaranya berusaha meyakinkanku.

Aku teringat ucapan Pak Bimo tentang keterangan Mirriam absen hingga lebih dari satu minggu. Aku makin tak yakin.

“Aku traktir gorengan ya, Bu. Masih banyak waktu, kok…”

Mirriam bangkit tapi kembali tanganku bergerak, menahannya. Aku tahu Mirriam ingin mengalihkan pikiranku. Aku menggeleng halus. Ia pun duduk kembali.

“Kamu bisa selalu mempercayai Ibu, Mirriam.”

Mirriam menunduk diam. Aku membiarkannya. Aku tak ingin membuatnya terpaksa terhadap apapun yang dia lakukan. Suasana kantin saat itu tidak begitu ramai. Hanya beberapa kepala yang tampak bercakap-cakap sambil menikmati jajanan seolah tak menggubris kehadiranku dan Mirriam.

Mataku tak beralih dari sosoknya yang masih menunduk.

“Papa yang melakukan ini padaku, Bu,” pelan suaranya namun ada sirat pilu di sana.

Mirriam mengangkat mukanya.

“Aku hanya membela mama dan juga harga diriku!”

Sorot matanya terluka.

“Mama perempuan yang kuat tapi mama terlalu rapuh di depan papa. Aku tak bisa melihat mama seperti itu terus, Bu. Aku tak bisa membiarkan mama merelakan tubuh dan juga hatinya untuk disakiti papa…” matanya berkaca-kaca.

“Ia memukulku, Bu!” Mirriam mengerjapkan matanya, menahan air mata yang nyaris keluar.

Aku bergidik. Terbayang di kepalaku sosok lelaki besar yang dengan beringas menguasai gadis mungil tak berdaya dengan pukulan-pukulannya. Duh gusti! Jangankan membuatnya terluka, menyentil kulitnya pun rasanya aku tak sanggup melakukan.

“Dia pikir dia menang, Bu. Lihat saja! Akan kutunjukkan bahwa aku dan mama lebih berharga daripada perempuan lacur itu. Lihat saja!”

Suaranya bergetar, penuh amarah. Dadaku pun turut bergetar. Ada yang ganjil dari sorot matanya. Tak mampu kudefinisikan. Mendadak berbagai macam bayangan menari-nari di kepalaku. Aku merinding.

***

Jarum di arlojiku masih menunjukkan angka 6. 40 ketika aku sampai di sekolah. Bergegas aku menuju kursiku. Pak Marwan tampak serius bercakap-cakap dengan Sir Garin. Sementara di seberangnya, Bu Pratiwi, Bu Tati, dan Bu Rossi entah memperbincangkan apa, setengah berbisik-bisik. Sesekali mata mereka mengarah ke ruang kepala sekolah.

Kukeluarkan buku paket dari tasku, membolak-baliknya sebentar. Materi ‘Stratifikasi Sosial’ telah kusiapkan sejak malam tadi. Rencananya hari ini aku akan memberikan pretest pada siswa-siswiku.

“Dasar anak kurang ajar!”

Aku terperanjat. Bu Pratiwi dan teman-temannya memutus perbincangan mereka. Begitu pula Sir Garin dan Pak Marwan. Semua menutup suara. Suara lantang yang berasal dari ruang kepala sekolah mengejutkan dan menyita suasana di ruangan ini. Hening. Hanya mata kami yang saling berpandangan.

“Aku benci papa!”

Plak!!!

Darahku berdesir.

Belum lekang rasa kagetku, seoang pria muncul dari ruangan kepsek. Wajahnya terlihat murka. Ia menarik sadis Mirriam. Terlihat gadis itu meronta, tapi lelaki itu terus menyeretnya tanpa memperdulikan suara Pak Waskito, tanpa mengindahkan deraian air mata Mirriam.

Tapi bukan Mirriam yang membuatku terpaku.

Lelaki itu. Aku mengenalnya. Teramat sangat. Lelaki yang selama ini mengisi hari-hariku nyaris dua tahun ini. Yang membawa mimpi dan cerita sendiri dalam hidupku. Lelaki itu, lelaki yang telah melambungkanku dalam sebuah harapan akan hari esok yang penuh warna dan telah menyematkan gambaran sebuah keluarga kecil bertaburkan kebahagiaan.

Ya, lelaki itu Himawan Prasetyo. Mas Pras. Pria itu Mas Prasku. Kekasihku!

Mendadak aku merasa kepalaku berdenyut keras. Pandanganku kabur. Tulangku serasa rapuh. Aku lunglai. Kutak tahu siapa yang menopangku. Entah siapa yang memanggil namaku dan siapa pula yang mengguncang tubuhku. Aku tak tahu. Semuanya gelap.

Mirriam berdiri menatapku. Mata beningnya mengerjap-ngerjap indah. Tertawa-tawa ceria. Lesung pipi menyembul di kedua pipinya yang cabi. Mirriam…

Aku benci diriku.

 

End

6 thoughts on “Cerpen#01 – Dua Sisi

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

    • Wkwkkk….
      Siapapun Anda…thanks banged sanjungannya…
      Cm miris dgn kalimat: akhirnya selesai juga…..
      Terkesan banged klo ceritaku teramat panjang dan sisi jenuh dr pembaca. Aq begitu senang mencermati interpretasi sebuah diksi…
      Apapun itu… Makasih….

  2. Siapa penulis cerpen ini? Dari caranya menulis, terlihat begitu mahir dalam merangkai kata dan kalimat. Sesuatu bgt deh cerpen ini…Salut!

  3. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s