Cerpen#02 – Pak Guru Randy


Pak Guru Randy

Pagi itu, usai bel masuk sekolah berbunyi, suasana kelasku sangat gaduh. Ini kebiasaan murid-murid jika guru belum masuk ke kelas. Keriuhan kelas tiba-tiba lenyap setelah Pak Randy masuk ke kelas dan langsung menuju meja guru.

Pak Randy adalah guru baru di kelas X dan mengajar bidang studi kimia. Ia terkenal sangar, tegas dan sangat disiplin. Wajahnya kaku tak pernah tersenyum di tambah dengan perawakan badannya yang tinggi besar. Jika ada murid yang tidak patuh pada tata tertib sekolah, Pak Randy tak segan-segan memperingatkan atau dengan menegur langsung. Sikapnya yang seperti itu membuat ia sangat disegani, terutama oleh murid-murid di kelasku yang terkenal sangat bandel.

“Ari, kenapa kamu pindah-pindah tempat duduk?” tanya Pak Randy saat semua murid sedang menyalin soal di papan tulis.

“Ngg…,kalau duduk di belakang, saya tidak bisa melihat jelas tulisan di papan tulis Pak,” tutur Ari takut dengan kelihatan wajahnya yang memucat.

Pak Randy hanya diam, dan melanjutkan pembelajaran hari itu. Namun, usai pulang sekolah, Pak Randy memanggil Ari.

“Ari, kamu masuk ke kantor guru dulu, jangan langsung pulang.”

“Iya Pak…,”jawab Ari dengan nada suara pelan.

Aku dan teman-teman yang mendengar percakapan itu langsung bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan diterima Ari.

“Pasti dia akan ditegur habis-habisan karena pindah tempat duduk tanpa aturan,” kata Anton yang memang tidak suka pada Pak Randy.

“Aku saja dulu pernah di tegur gara-gara salah jadwal,” sambung Anton lagi.

“Huuu… kalau itu, memang kamu yang salah, Ton! Kenapa juga bisa salah lihat jadwal pelajaran! Buku yang kamu bawa kan, jelas jadi salah semua!” kata Robi meluruskan masalah.

Keheranan kami semakin bertambah, saat melihat Ari pulang bersama Pak Randy. Hmmm… mau dibawa kemana, ya, Ari? Padahal hanya karena pindah tempat duduk, harus diadukan kepada orang tuanya?

Kami berpisah di pertigaan jalan. Anton ke kiri, Robi ke kanan, dan aku lurus.

“Hati-hati, ya, Rudi!” seru Anton dan Robi sambil melambaikan tangan mereka.

Sampai di rumah, aku cepat-cepat mengganti seragam, mencuci tangan, dan membuka tudung saji. Hemm… sayur cah kangkung dan tempe goreng kesukaanku! dengan lahap kumakan pada siang hari itu. Rupanya Ibu sudah menyiapkan masakan ini sebelum berangkat kerja tadi pagi. Kalau siang begini, hanya aku yang di rumah. Bang Bayu tinggal di luar kota dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sementara Ibu dan Ayah baru pulang menjelang magrib.

Usai membaca ulang pelajaran hari ini, aku merebahkan badan. Capek sekali hari ini, namun kenapa tidak bisa tidur, ya? Apa gara-gara penasaran dengan Ari tadi? Karena tidak bisa tidur, aku lalu menyibukkan diri beres-beres rumah. Sore harinya, aku menyapu membersihkan halaman rumah. Ini memang sudah tugasku setiap sore.

“Selamat sore Rudi, lagi bersih-bersih, ya? Rajin sekali…,” suara Pak Randy mengagetkanku.

“Selamat sore Pak. Dari mana, Pak?” tanyaku memberanikan diri.

“Oo… Bapak baru mengantar Ari pulang ke rumahnya. “Hmmmm…. ya sudah silahkan dilanjutkan lagi menyapunya Rud! Bapak pulang dulu, salam untuk Ayah dan Ibumu ya”. Kata Pak Randy sambil tersenyum.

Malam harinya, usai makan malam, aku menyampaikan salam dari Pak Randy kepada Ayah dan Ibu.

“Pak Randy kenal sama Ayah dan Ibu, ya?” tanyaku.

“Ya, kenal,dong! Randy itu anak sahabat Ayah. Makanya, usianya sebaya dengan abang pertamamu, Bayu,” kata Ayah.

“Randy itu anak yang hebat, lo. Bapaknya sudah meninggal sejak dia kelas 5 SD. Tapi dia tetap bersemangat untuk menjadi yang terbaik,” sambung Ibu.

“Karena rajin belajar, Randy selalu menjadi juara kelas. Dia lalu mendapat beasiswa sampai perguruan tinggi. Randy juga sayang pada ibunya. Dia biasa bekerja keras membantu ibunya berjualan, dan tumbuh menjadi anak yang mandiri,” tambah Ayah lagi.

“Contohlah Pak Randy, Rud! Dia punya semangat yang tinggi untuk belajar dan berbakti pada orang tuanya,” tutur Ibu sambil mengusap kepalaku. Dalam hati aku menyesal. Selama ini, aku dan teman-temanku telah salah menduga tentang Pak Randy.

Esok paginya, aku bingung melihat teman-temanku berkerumun di dalam kelas. Oo, ternyata mereka ramai mengomentari penampilan baru Ari yang sekarang berkacamata. Ari lalu bercerita, ia kemarin di ajak Pak Randy ke klinik pengobatan mata untuk memeriksakan matanya. Ternyata matanya sudah minus satu setengah.

Oleh dokter mata, Ari disarankan segera memakai kacamata agar bisa melihat lebih jelas. Lalu Pak Randy meminta Ari memilih model kacamata yang cocok. Semua biaya periksa dan kacamata, ditanggung oleh Pak Randy.

Semua teman-teman yang mendengarkan cerita itu jadi terkagum-kagum pada kebaikan Pak Randy. Mereka baru sadar, ternyata Pak Randy sangat perhatian pada murid-muridnya.

Teett… tettt… tettt…

Bunyi bel masuk kelas.

Seperti biasa, setelah berbaris, kami segera masuk ke kelas. Kali ini, kami semua menanti kedatangan Pak Randy dengan rasa bangga. Aku dan teman-temanku kini bangga mempunyai guru seperti Pak Randy. Kami berjanji akan meniru semangat, disiplin, dan sifat suka menolong tanpa melihat latar belakang orang yang akan ditolongnya.

Advertisements

3 thoughts on “Cerpen#02 – Pak Guru Randy

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s