Cerpen#04 – Ufuk Langit Timur


UFUK LANGIT TIMUR

 

Semburat merah masih nyata menggantung di ufuk langit timur. Tenang dan anggun. Setenang bulir-bulir embun yang belum beranjak dari dedaunan yang tampak berkilauan. Biasnya masih temaram dan tersipu menanti sang surya menjemput. Sayup terdengar suara burung-burung menyambut fajar. Riuh rendah bercengkerama di pucuk-pucuk cemara hutan.

Kabut pun masih menggelayut sejauh mata memandang. Enggan kembali ke peraduan. Menyelimuti jalan setapak yang basah oleh hujan yang turun dengan derasnya semalam. Di sana sini, tampak genangan air yang enggan menyingkir. Anak sungai kecil di sisi jalan setapak itu, tak lelahnya mengantarkan aliran air hingga ke hilir di bawah sana. Suara gemericiknya menyatu seperti alunan yang berirama. Indah.

Sepagi ini Bram telah meninggalkan rumahnya di atas bukit kecil itu. Sedikit terburu, Bram melangkah dengan sigap. Melompati genangan-genangan air yang menghadangnya. Sesekali tangannya meraih akar pepohonan yang mengggantung di sisi tebing untuk menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Ingin rasanya ia segera sampai di tempat yang ditujunya.

Bram yang berusia 22 tahun itu, baru saja menyelesaikan kuliahnya beberapa waktu lalu. Sosoknya yang tegap, sederhana, dan bersih menyiratkan semangat hidupnya yang tidak mudah menyerah. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya meski sempat ragu.

Ingin ia mengembangkan diri di kota. Namun kadang ia harus menahan haru ketika teringat ayahnya yang sudah sakit-sakitan dan tinggal seorang diri di kampung. Ibunya telah tiada semenjak ia masih kecil. Ayahnya yang membesarkannya seorang diri sejak saat itu hingga hari ini. Dan karena perjuangan ayahnyalah yang telah membuat ia kembali menuruni bukit di pagi ini.

Berpakaian paling bagus yang ia miliki, sepotong kemeja kotak-kotak sederhana serta celana panjang hitam menyertai tubuhnya yang terus bergegas. Sepasang sepatu hitam kusam, mengantarkan langkahnya menuju tujuan.

Bram terus menuruni bukit itu. Hanya ada sebuah rumah yang dilewatinya sepanjang perjalanannya menuruni bukit di pagi ini. Rumah Harun, sahabatnya semenjak kecil. Sahabat yang menyertai hari-harinya menyusuri jalan setapak itu. Sahabat yang mengiringinya berlarian di sepanjang jalan yang membelah hamparan sawah ketika bersekolah dulu. Sahabat yang membuat ia tertawa dengan banyolannya. Dan sahabat yang membuat ia menitikkan air mata ketika menyampaikan berita tentang ibunya yang tiada.

Pagi ini rumah itu telah sepi ketika Bram melewatinya. Mungkin Harun telah memanggul cangkul ke sawah pikirnya. Atau mengayuh sepedanya menuju tempat ia menyabit rumput untuk kerbau-kerbaunya. Belum pernah ia bertemu Harun semenjak ia kembali ke kampungnya.

Beberapa lama ia berjalan, buliran-buliran peluh mulai menitik di dahinya. Tangannya bergerak menyeka ketika ia selesai menuruni bukit itu.

“Setapak ini tak pernah berubah seperti belasan tahun yang lalu” gumamnya. Ia tersenyum kecil.

Bram menghentikan langkahnya dan memiringkan wajah, menandangai jalan setapak hingga tikungan di atas bukit itu. Sekelebat kenangan berlalu dalam ingatannya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke depan. Sebuah jalanan berkerikil yang membelah bentangan sawah yang luas. Jauh di depan sana, sebuah bangunan sekolah dasar berdiri.

“Sayang sekali, tidak ada pemandangan hijau di sawah” suara Bram hampir tak terdengar.

Hujan yang semalam mengguyur adalah hujan pertama semenjak beberapa bulan terakhir. Kekeringan menyebabkan puso di mana-mana. Tanah kecloklatan yang retak baru saja melepas dahaga dari hujan semalam. Tidak ada padi atau jagung seperti dulu ketika ia berangkat sekolah. Hanya ilalang di tepian jalan itu yang nampak tumbuh berdesakan. Di pucuk-pucuk dedaunannya yang menguning masih tampak embun bergelantungan. Bagai permadani berhias permata di tengah gurun yang membentang dengan indahnya.

Bram masih berdiri tertegun memandangi jalanan panjang berkerikil di depannya itu. Kenangan masa kecilnya beberapa tahun yang lalu, membuat ia tersenyum kecil. Senyuman yang menyiratkan berjuta makna. Sembari menghirup udara yang sejuk dan segar, angan-angannya terus membuka lembaran-lembaran usang masa kecilnya.

Dulu, bagi Bram, tidak ada hari tanpa melewati jalanan itu. Sejak kecil hingga lulus sekolah dasar ia menuruni bukit itu di pagi buta setiap hari agar tidak terlambat tiba di sekolah. Ia harus berlomba dengan waktu agar tak didahului matahari ketika sampai di kaki bukit. Ia tak pernah mengeluh. Meskipun tanpa alas kaki, sambil melompat dan berjingkat menghindari genangan dan lubang adalah ritualnya setiap hari. Pakaian putuh dan celana pendek berwarna merah kusam selalu membangkitkan semangatnya untuk menimba ilmu.

Sembari memandangai atap-atap rumah lain di bawah bukit yang berselimut kabut tipis, seperti menikmati lukisan hidup yang abadi. Pemandangan itu yang membuat ia tak pernah lelah melewati setapak itu setiap hari. Beriringan dengan Harun, sahabatnya, mereka menyongsong pagi.

Kemudian mereka harus menapaki jalan berkerikil sambil berlari kecil. Bersamaan ketika matahari mulai menyembul dari hijaunya hutan di sebelah timur kampungnya. Bertemu dengan teman-temannya dari arah kampung yang lain. Berkejaran dan bercanda dengan teman-temannya adalah warna-warni perjalanan hidupnya yang tak pernah terlupa.

”Bram! Tunggu lah” teriak Harun sambil berlari dari atas bukit mengejar Bram. Bram yang telah sampai di bawah bukit itu hanya tertawa melihat Harun yang berlari mengejarnya.

”Kamu habis marathon ya, nafasmu sampai senin-kamis begitu” seloroh Bram. Harun hanya mendelik membalas senyum kemenangan Bram.

Dua anak remaja tanggung itu tampak melewati jalanan berkerikil sambil sesekali tertawa tergelak. Berjalan beriringan tanpa alas kaki, langkah mereka sigap tanpa ragu. Menyongsong hari yang masih remang tak berbayang. Bersiap menyambut estafet ilmu dari guru-guru yang terus mendorong mereka untuk maju.

Pagi itu kabut cukup tebal. Cuaca tak begitu bersahabat. Tak ada lembayung jingga di ufuk timur seperti hari-hari sebelumnya. Hawa dingin menembus kulit hingga membuat gigi-gigi gemeretak. Namun tak membuat keduanya urung menuruni jalan setapak itu.

”Bram!” panggil Harun sambil menepuk bahu Bram.

”Ada apa?” jawab Bram sekenanya.

”Ini kan hari terakhir kita ujian” sambung Harun.

”Iya. Terus kenapa?” tanya Bram.

”Setelah lulus kamu mau sekolah kemana?” Harun pun balik bertanya.

”Belum tahu. Kamu sendiri Run?” tanya Bram lagi.

”Aku ingin sekali menjadi guru Bahasa Indonesia Bram. Tapi kaya kamu tidak tahu bapakku saja” jawab Harun. Datar.

”Maksudmu?” tanya Bram penasaran.

”Aku tidak sepintar kamu, Bram. Aku hanya bisa membuat sajak. Bapakku menyuruhku mengurus kerbau-kerbaunya setelah lulus nanti”.

Langkah mereka terhenti sejenak. Bram memperhatikan wajah sahabatnya. Wajah sederhana yang mengguratkan kekerasan hidup yang dilaluinya. Harun hanya membalas tatapan Bram dengan senyum kecil sembari mengangkat kedua bahunya.

”Kamu bercanda? Sekolah yang akan membuat kita pandai, Run”.

”Biar adikku saja nanti yang sekolah. Dia yang harus mengangkat derajat keluargaku nanti Bram”. Sambung Harun.

”Aku pun sebenarnya belum tahu”. Gumam Bram sambil menggelengkan kepala.

”Masih ingat pesan pak Heru kan Bram? Beliau ingin melihat salah satu murid-muridnya di kelas ada yang bisa menyandang gelar sarjana. Kamu yang selalu dibanggakan beliau” Harun menyambung.

”Kalau pamanku di kota punya pekerjaan untukku, aku bisa sambil sekolah di sana”. Ungkap bram sambil memainkan sebatang pensil di jemarinya. “Kalau tidak ya, kita cari rumput sama-sama lagi ya!” seloroh Bram sambil berlari menghindari kejaran Harun.

Dua anak remaja tanggung itu tampak berkejaran di antara daun-daun ilalang itu. ”Kamu harus sekolah Bram! Buat kampung kita bangga karena memilikimu!” teriak Harun sambil mengejar Bram.

Rerimbunan ilalang liar di pematang sawah itu seperti menunggu mereka untuk dilewati. Menanti tangan-tangan kecil Bram dan Harun yang jahil. Menerbangkan bunga-bunga ilalang dan benihnya bersama hembusan angin lembut agar tumbuh di hamparan tanah yang baru.

Benih-benih itu seperti ilmu yang selalu tumbuh di tempat baru. Ilmu yang mekar karena kepiawaian pengabdian guru . Semai-semai mungil yang di tebar sang guru di ufuk langit timur akan tumbuh seiring terbiasnya lembayung senja di ufuk langit barat. Ronanya menebar keharuman lambang kemajuan bangsa.

Bram masih saja berdiri tertegun memandangi barisan ilalang di hadapannya. Kenangan-kenangan itu begitu sulit untuk berlalu dari lamunannya yang panjang. Sepanjang jalan berkerikil yang akan ia lalui kembali pagi ini.

Bias hijau kekuningan berkilau seperti permadani yang menyambut langkahnya. Senyum kecilnya masih tersungging si sudut-sudut bibirnya. Ketika sebuah teguran menyapanya, Bram sempat terperanjat tersadar dari lamunannya.

”Bram. Tak perlu buru-buru” sebuah tangan menepuk pundak Bram dari belakang. Suaranya datar dan bersahaja.

”Harun!” wajah Bram sumringah ketika membalikkan badan dan melihat Harun berdiri di hadapannya. Wajahnya telah banyak berubah. Tidak seperti dahulu. Guratan-guratan kesedrhanaan semakin tampak di wajah Harun. Entah seperti apa hidupnya sekarang, pikirnya. Harun menggendong seorang anak perempuan mungil yang cantik.

”Matahari belum muncul di ufuk timur Bram. Tak usah tergesa-gesa. Tak perlu berlari seperti yang biasa kita lakukan dulu” ungkap Harun. “Betapa senangnya melewati masa-masa kecil kita ya. Berlomba dengan bayangan kita sendiri sebelum cahaya kemerahan menghilang di ufuk timur” lanjutnya.

“Benar, Run. Kau masih seperti dulu. Pandai merangkai kata” jawab Bram dengan senyum yang semakin lebar. “Anakmu?” tanya Bram lagi sambil mengelus rambut anak perempuan di gendongan Harun itu.

”Iya. Sudah satu tahun umurnya” jawab Harun. “Sebenarnya aku sudah menunggumu di sini”. Lanjut Harun.

”Dari tadi?” tanya Bram lagi.

”Iya. Aku hanya mau menitipkan ini” Harun mengulurkan secarik kertas. Bram menerimanya dan perlahan membacanya dalam hati. Beberapa larik puisi dengan guratan-gutaran tulisan sederhana namun tegas.

 

Berlari di atas rebahan ilalang

Terhenti

Terjatuh

Terbangun

Mengejar bayang

Yang terbias oleh temaram cahaya langit ufuk timur

Dan pertiwi

Adalah peraduan

                                                                      Harun.

 

 

Bram menarik nafas. Matanya memerah. Ada gemuruh dalam hatinya yang ingin ia tumpahkan saat itu. Namun ia hanya mampu mengangkat wajah dan menatap Harun kembali. Bram ingat betul, betapa ingin Harun melanjutkan sekolahnya. Dan betapa ingin Harun menjadi seorang guru. Namun Tuhan berkata lain dan mereka bertemu ditempat itu dalam situasi yang haru.

 

”Tolong bacakan di depan kelasmu Bram”. Kata Harun sambil menepuk pundak Bram sekali lagi. “Aku tidak bisa berdiri di sana sepertimu” lanjutnya. “Kemarin aku mendengar dari kepala desa, kamu sudah kembali dan akan mulai mengajar hari ini” kata Harun.

”Pasti” kata Bram sambil menganggukkan kepala.

Sekali lagi Bram mengelus rambut anak Harun dengan lembut. Bram membalikkan badan dan perlahan melangkahkan kaki di antara barisan ilalang.

Bibir Bram menyungging sepintas senyum. Pahit. Matanya berkaca-kaca. Ia tak lagi menoleh ke belakang di mana Harun masih memandanginya dengan tatapan bangga. Bangga karena sahabatnya kini akan mewujudkan mimpinya. Di mana bait-bait puisinya akan dibacakan di depan kelas. Meskipun bukan ia sendiri yang membacakannya.

Langit ufuk timur belum lagi mememunculkan mentari. Warnanya masih kemerahan membakar semangat Bram yang menggenggam erat secarik kertas pemberian Harun. Angin pun masih enggan berhembus untuk menerbangkan bunga-bunga ilalang.

Suara burung-burung kecil yang mulai beterbangan di cakrawala sedikit menghibur suasana hati Bram. Bram melangkah pasti ke depan. Di antara rebahan-rebahan ilalang ia bergumam perlahan.

”Aku Bramantyo. Sejak hari ini, aku akan menebar benih ilmu di tanah pertiwiku” gumamnya.

Di kejauhan sudah tampak bangunan sekolah dasar di mana ia dulu pernah duduk di sana selama enam tahun. Senyumnya semakin lebar ketika ia memasuki gerbang sederhananya. Dan ia terus melangkah maju.

 

SELESAI

 

(Revisi: 16 Mei 2015)

12 thoughts on “Cerpen#04 – Ufuk Langit Timur

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Suka banged. Bahasanya bagus. Manis. Puitis tapi gak lebay…
    Mengalir indah. Emosinya dapet…
    Ntar percakapannya dibenerin aza biar gak kyk drama. Wkwkwwk…
    Duh gusti! Paling seneng klo uda jd komentator!!!

  3. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s