Cerpen#05 – Dari Mora Untuk Dunia


Dari Mora Untuk Dunia

“Mora , Mora, bangunlah, Nak. Sudah pagi.

“Ini Ibu ada kejutan buatmu. Lihatlah. Apa yang Ibu bawa?”, tanya Ibu sumringah

“Ini seragam sekolah SMA yang ibu jahit disela waktu Ibu bekerja. Besok hari pertamamu duduk di bangku SMA. Ibu ingin melihatmu memakainya”.

“Terima kasih, Bu! Aku menyukainya. (balas Mora dengan berlinang air mata)

“Kenapa kau menangis, Nak?” tanya Ibu.

“Tidak Bu, aku hanya terharu. Sekali lagi terima kasih, Bu.” sahut Mora sambil memeluk Ibunya erat.

Ya. Itu sekelas cuplikan awal kehidupan keluarganya yang sederhana. Seorang remaja yang terlahir menjadi anak tunggal di keluarganya. Sosok lelaki introvert, pendiam, dan sedikit emosional. Itulah Mora. Dibalik karakter uniknya, Mora dianugerahi keistimewaan yaitu ia seorang pria yang jago melukis. Sekali lagi. Itulah Mora. Sampai-sampai teman sekolahnya menjulukinya “PRIA ISTIMEWA”.

Hari-hari, waktunya seakan melewati batas kebebasan yang sebenarnya. Ibunya hanyalah seorang penjahit di kaki lima. Ayahnya telah meninggal 6 tahun yang lalu. Ayahnya adalah seorang sopir truk yang lalu lalang ke daerah-daerah yang jangkauannya sangat jauh. Bak sebutir permata di dalam keluarga, setiap hari hidupnya ia lalui dengan membentengi iman lewat doa dan beribadah. Meskipun dia adalah anak tunggal di keluarganya. Mora tak pernah lupa ‘tuk membantu kedua orangtuanya dalam hal apapun. Hal itulah yang membuat ibunya sangat menyayanginya. Semua hal berkaitan dengan seragam sekolah, ibunya sendirilah yang menjahitkannya. Itu hanyalah sebagian kasih sayang yang ibunya dapat berikan kepadanya. Ya, selama ini hanya ibu yang dapat membuat air matanya terasa lalu lalang menentu menyikapi kehidupan sederhana keluarganya.

Akan tetapi, kisah besar terjadi ketika sebulan melewati hari di bangku sekolah. Hal itu membuat bulu kuduknya merinding pilu ketika ketiga teman sekelasnya yakni (Yuke, Mahar, dan Yola) melukai perasaannya. “Trio Kuman”, panggilan teras yang sering dipanggil Mora. Berikut sekilas pendeskripsian sosok ketiga temannya itu yang memiliki karakter antipati terhadapnya.

Yuke. Sosok Yuke adalah seorang perempuan berbadan tinggi dan memiliki paras cantik. Akan tetapi ia merupakan seorang remaja yang angkuh, licik, dan riya. Adakalanya kita akan dibuat emoh dengan sikapnya yang super arogan.

Adapun, Mahar … Ya, seorang teman sekolahnya yang tampan, playboy, dan bergaya hidup parlente. Seorang pria yang mudah bergaul dengan siapa saja. Untuk bergaul dengan siapapun dia adalah rajanya, tetapi semua itu menjadi sama mudahnya ketika dia yang cenderung memiliki karakter peluka terhadap orang yang dibencinya, Itulah yang membuat dia sangat disenangi sekaligus dibenci oleh teman-teman sekolahnya.

Dan yang terakhir adalah Yola. Teman sekelasnya yang cuek, apatis akan dunia nyata. Setelah kuselidiki, karakter langka itu didapatnya dikarenakan faktor keluarganya yang kusut masai. Ibunya atheis, Papanya pemabuk berat. Gaya hidup keluarganya yang bar-bar membuat segala kebahagiaan adalah segala-galanya. Hal itulah yang membuatnya menjadi arogan dan pembangkang.

* * *

 Pagi itu, untuk pertama kalinya Mora dapat menangis di khalayak umum. Ya, tangisan itu merupakan tangisan kedua yang pernah terjadi di hidupnya. Karena selama ini hanya Ibunya yang hanya mampu membuat air matanya berlinang.

Sosok lelaki berkaca mata ini tertegun lirih melihat foto ibunya dikotori dengan gambar guyonan yang tidak pantas. Kejadian itu bermula ketika jam istirahat sekolah tiba. Ketika itu ketiga teman sekelasnya (Yuke, Mahar, dan Yola) iseng menggeledah tasnya di kelas. Mereka melucuti foto ibunya dengan menambahkan gambar-gambar yang menurutnya tidak pantas.

“Hahahaha …” Terdengar bunyi tawa di sudut kelas oleh sekelompok temannya.

Serontak matanya pun merah padam ketika ia kembali ke kelas melihat foto ibunya terpajang di depan papan tulis kelasnya.

“Siapa yang melakukan ini? teriaknya.

“Kami, terus mau apa kau jangkrik? Sahut sindir Yuke.

“Apa maksud kalian merusak foto ibu ku?”

“Hei Mor, kami tidak merusaknya, kami hanya menyalurkan hobi melukismu. Lihat Ibu mu semakin cantik dengan balutan kumis dan jenggotnya. Itu semua hasil karya kami Mor, Ibu mu semakin seksi bukan? Hahaha”, sorak mereka serempak.

Tawa mereka pun terbalas lirih tangis Mora. Beberapa saat kemudian, kejadian yang tidak diinginkan muncul. Mora berlari mengejar Mahar dan menyorongkan kedua tangannya tuk mencekiknya dengan sangat keras. Cengkraman Mora pun semakin keras. Sontak suasana kelas pun menjadi riuh.

“Berhentiiiii,” teriak Pak Uka di depan pintu kelas.

“Kurang ajar sekali kalian, berani berkelahi di kelas.

“Dia yang mulai Pak,

“Dia ….,”

“Apa-apaan ini,” Ikut saya kalian.” Tegas Pak Uka

Pak Uka pun menarik kedua tangannya ke ruang BP. Mereka pun di sidang dengan disertai beberapa saksi teman-teman di kelasnya.

Karena saksi dari pihak Mora pun tidak ada, akhirnya Pak Uka menghukum mereka dengan menjemur keduanya di lapangan sekolah. Terik matahari yang menghinggapi pun membuat mereka semakin tertegun. Saling pandang pun tak terelakkan lagi. Sesekali di sela sesi jemur itu berlangsung pun. Semapat-sempatnya mereka beradu mulut.

“Hey, Mor untuk apa kau besar-besarkan masalah ini”, ujar Mahar.

“Membesar-besarkan katamu? Gila kau, kau telah hina ibuku”, ucap Mora.

“Itukan kan guyonan sepele, Mor. Sempit sekali selera humor mu”, ucap Mahar kembali dengan nada tengil.

“Diam saja kau, kita sedang dihukum, aku tak mau menambah masalah lagi. Kita selesaikan nanti”, ungkap Mora kembali.

“Huuuuuuu ….”, sorak serempak terdengarr di sudut sekolah, berdiri riuh semua anak-anak yang melihat aksi duo lelaki tersebut. Siul tawa dan kesal terlontar dari suara mereka.

Tak lama berselang, hukuman keduanya pun berakhir. Pak Uka pun memanggil keduanya kembali ke ruang BP. Dia pun mengirimkan surat pemanggilan kepada orang tua mereka berdua. Hal itu sontak membuat keduanya panik.

“Pak, tidak bisa begitu, dalam kasus ini ibuku dihina olehnya, kok ortuku ikut dipanggil, Pak?” ungkap Mora.

“Jangan membantah, kamu tadi juga salah, Kenapa ekspresimu begitu brutal hingga lantas mencekik Mahar?,” cetus Pak Uka.

“Iya Pak, aku mengaku salah, tapi aku tidak terima jika ibuku di hina seperti itu?” ungkap Mora

“Iya bapak paham, Nak. Tapi ada reaaksi lain yang bisa kamu lakukan, kamu kan bisa lapor bapak.

Reaksi terbalik ditunjukkan oleh Mahar, Ia begitu tenang menyikapi pemanggilan orangtu tersebut.

“Lihat saja nanti, apa yang akan kulakukan kepadamu, Mor.” bisik Mahar dalam hati.

* * *

Tampak dari kejauhan sebuah mobil jaguar kuning terparkir di halaman sekolah. Ternyata itu adalah mobil ortu Mahar. Terlihat gaya papanya yang parlente turun dari mobil dengan gagah. Dan mamanya juga datang dengan gaya glamornya pula, dilengkapi dengan perhiasan dan kipas tangan yang super lembut.

“Mahar sayang, di mana kantor gurumu? Ucap mama

“Itu, Ma, tidak jauh dari kelasku”, jawab Mahar.

Tak lama kemudian, datanglah sebuah motor matiq yang dikendarai Mora dan dibelakang terlihat membonceng ibunya yang baik hati itu. Mereka pun tercengang melihat di depan terpajang megah mobil jaguar mewah miliik ortu Mahar.

“Mobilnya mewah sekali ya Mor? Tanya ibu.

“Iya bu, itu mobil kepunyaan orangtua Mahar, anak yang yang telah mencri masalah denganku”

“Sudahlah, mari kita ke kantor BP.

Perbincangan panas pun dimulai. Pak Uka membuka diskusi ini dengan menceritakan kronologis kejadian yang terjadi di depan kedua orangtua Mahar dan Mora.

“Dubrakkkkk ,,,, terdengar bunyi gertakan meja yang begitu keras.

“Astagaaa, jadi hanya itu? Itu hanya candaan biasa. Lelucon anak sekarang, kenapa bisa diambil hati? Lebay sekali kamu.”, tegas papa Mahar dengan nada angkuh.

“Hey, Pak. Hati-hati kalau bicara, anak mana yang tidak marah ketika foto ibunya dicorat-coret, tidak kah bapak punya ibu, bagaiamana kalau foto ibu bapak saya corat coret mukanya, lalu saya lempar foto itu ke depan bapak. Apa bapak bilang itu ‘LELUCON’?,” tanya Mora (dengan nada tinggi seraya menunjukkan tangan ke arah Papa Mahar)

“Kurang ajar kau, dasar bocah kampung?” tanggapnya seraya ingin menampar muka Mora.

“Bapak yang kampungan, Luar kota, dalamnya lebih kampungan dari orang kampung.” Balas Mora.

“Hey, Pak jangan sekali-kali kau pukul anakku. Maafkanlah perkataannya jika itu menyakiti Anda, seru Ibu.

Baik. Saya setuju dengan anggapan bapak, mungkin anak saya tidak memiliki selera humor yang tinggi”.

“Kenapa, Ibu berbicara seperti itu? Bisik Mora.

“Sudahlah, Mor, kita tidak akan menang menghadapai manusia seperti ini. Biarkan saja. Tuhan tidak tidur. Kelak dia akan rasakan karma ini.

Mora pun kelu melihat reaksi ibu yang begitu tegar menyikapi hal ini. Ia semakin kagum dan terharu. Alhasil dengan berjiwa besar, justru Mora secara respon meminta maaf. Pak Uka dan semua yang berada di ruangan itu pun terkejut. Mereka terdiam. Jabat tangan Mora pun dilakukannya. Entah mengapa situasi ini menjadi terbalik. Sesuatu yang benar pun menjadi lebih agung ketika kebenaran mengalah demi sebuah perhentian peristiwa yang kelak tidak ada ujungnya.

Akhinya pun perdamaian pun terjadi antara kedua belah pihak. Pak Uka pun lega. Mereka semua pun pergi meninggalkan ruangan BP.

* * *

Situasi normal pun kembali terjadi. Hari esok menjadi keharusan tuk dilalui Mora dan Mahar. Akan tetapi, rasa benci keduanya sesekali terlihat dari raut wajah mereka. Segala bentuk kekesalan hanya dapat terungkap dalam raut wajah kejadian dalam sebuah lukisan. Ketiga racun itu pun kembali menjadi diri mereka sendiri. Tidak ada perubahan karakter.

“Sudahlah Mor, tak perlu kau ingat-ingat lagi kejadian itu,” ujar Tisya (sahabt Mora nan cantik)

“Terima kasih Tis … pelan-pelan aku mulai dapat melupakan melupakannya,” seru Mora

Yeah, gitu donk, ini baru Mora sahabtku. Hehehe .…,” canda Tisya

“Eh, Mor, aku dengar-dengar si Evan asik kelas kita menderita Leukimia. Suah seminggu ini dia dirawat di rumah sakit.

“Oh, ya?”

“Iya, ternyata sakitnya semakin parah. Ia memerlukan pengobatan serius. Aku dengar-dengar pengobatannya bahkan harus ke luar negeri. Tentu ini memerlukan bantuan biaya yang sangat besar.

“Aku turut sedih Tis, aku harap semoga ia lekas sembuh dan diberikan kemudahan oleh Tuhan dalam proses kesembuhannya.

Keduanyapun semakin asik bebincang. Sudah menjadi kehausan dan kebiasaan bagi Mora dan Tisya untuk bercerita bak mengarang bebas. Sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa mereka berdua adalah sepasang sahabat yang romantis.

“Oh iya Mor, kebetulan mendapatkan kabar hebat, Sebuah organisasi pemuda seni di Kota ini akan mengadakan pameran seni dan bazar seni dalam rangka Pundi Amal. Acara ini juga bekerja sama dengan setiap Ketua OSIS di setiap sma di kota Ini kesempatan baik bagi kita untuk mengembangkan kreativitas dan sekaligus momen terbaik bagi kita menolong sesama. Bahkan, acara tersebut akan kedatangan pebisnis-pebisnis hebat di Indonesia dan kolektor pencinta seni.

“Wah, acara yang bagus Tis, Aku terkesan tuk ikut.”

“Sip, Nanti aku kabari kalau ada info baru.

“Kira-kira, kamu akan sumbang karya seperti apa ni, Mor?”

“Ada deh, rahasi dong. Hehe.” cetus Mora (tersenyum simpul)

“Wouw, main rahasia-rahasian nih ceritanya sama aku. Sepertinya spekta. Awas kalau engga.

“Sip”

“Ini saatnya Mor, kau tunjukkan pada orang banyak bahwa karyamu dapat berguna dan layak diapresiasi lebih.

“Iya terima kasih, Tis. Semoga karya ku ini dapat disenangi orang banyak.

“Tentu, aku yakin itu,” tegas Tisya

* * *

Pameran pun tiba, para siswa yang ikut serta dalam kegiatan seni dan amal ini begitu melimpah ruah. Dari hasil seni lukisa, poster, seni potografi, dan hasil kreasi kerajinan tangan di sadurkan dengan begitu variatif. Banyak pebisinis muda dan kolektor seni turut hadir tuk melihat hasil seni tersebut.

Tidak terduga oleh Mora. Ternyata acara ini juga turut dihadiri ketiga geng racun yakni Mahar, Yola, dan Yuke. Bahkan Mahar ikut serta dalam acara tersebut. Mahar dengan gaya galmournya memang terkena dengan keahliannya dalam dunia potografi. Sudah tentu kehadirannya membuat varian yang berbeda dalam pameran tersebut.

Sekali lagi karakter Mahar yang licik membuatnya memiliki keinginan yang membuat telinga kita panas. Usut punya usut ia mempunyai harapan jika kelak hasil karyanya mendapatkan apresiasi dari kalangan kolektor seni. Dia akan mempergunakan hasil dari jriih payahnya itu untuk berfoya-foya di Bali. Sudah tentu niat buruknya itu berseberangan dengan tujuan acara yang memfokuskan kegiatan amal.

“Lihat aja ya, guys, aku hasil karya ku pasti yang terhebat. Aku sedang memimpikan Bali. Kita akan ke sana guys. Hahaha,” tutur Mahar.

“Pasti bro, nama besarmu di sini sudah tidak diragukan lagi. Aku yakin kau menang, bukan begitu, La?

Yoiiii, Baliiii, I’m comiiiing. Hahahaha,” canda Yola dan Yuke.

* * *

Para peserta pun telah mempersiapkan karya yang akan dipajang di setiap sudut gedung acara. Ternyat hasil seni yang di sumbang Mora adalah sebuah lukisan tangan yaitu sebuah seni lukis yang melukiskan sesosok wanita yang sedang duduk di meja jahit. Sosok wanita tersebut rupanya adlah hasil inspirasi Mora terhadap Sang penerang hidupnya yakni ibunya sendiri. Lukisan tersebut begitu artisitik dan eksotik.

Alhasil, keksotisan lukisan tersebut tak ayal membuat kolektor seni yakni Frank, turis asing yang berasal dari perancis itu langsung terkesan dan melabeli lukisan Mora tersebut dengan harga fantastis. Tak tanggung-tanggung 20 milyar Ia rogoh tuk membawa pulang lukisan tersebut.

“Aku mau lukisan ini, tolong temukan aku dengan pemiliknya,” tutur Frank kepada panitia pameran.

Mora pun girang bukan kepalang, mereka pun berbincang-bincang mengenai hasil mahar karya tersebut. Frank menuturkan bahwa, lukisan Mora ini begitu artistik, jiwa imajiner begitu pekat dengan balutan ukiran lukisan sesosok wanita yang sedang berkacak tangan dan dalam dayungan kaki menggenjang benang dan pakaian di depan meja jahitan. Wanita tersebut diseksripsikan menggunakan kebaya putih dengan balutan kain sarung gelap.

Tak tanggung-tanggung, Mora pun berencana diajaknya untuk ikut dengannya ke perancis. Mora pun akan diajaknya menuju duta besar Indonesia Perancis untuk diwawancarai. Karya lukisannya akan diperkenalkan di balkon taman kota Paris, Perancis. Mora diajak untuk mempresentasikan hasil lukisannya ke khalayak ramai mengenai asal muasal inspirasi nyatanya tersebut.

“Dunia harus tau, bahwa Indonesia punya pemuda yang briliant,” ujar Frank kepada wartawan Perancis.

Di konferensi tersebut ia menyaurakan bahwa lukisan tersebut terinspirasi dari seorang wanita yaitu ibunya sendiri. Selain itu, ada motivasi tambahan yang membuat lukisan ini dpat terwujud. Kalian harus tau bahwa ada beberapa orang selama ini yang tidak menyukai ku dan ibuku. Aku tidak bohong, lukisan ini berlandaskan rasa sayangku terhadap ibuku dan sekaligus rasa sakit hatiku kepada mereka para pecundang yang yang pernah menginjak harga diriku dan ibuku.

“Aku hanya ingin katakan, aku hanyalah anakan dari seorang penjahit tua yang telah membesarkanku sebagaimana kini. Ayahku telah tiada ketika umurku 5 tahun. Hanya dialah pengasuh terbaikku. Aku persembahkan Mahakarya ini kepadanya. Ibuku (Asyifa),” ungkap Mora.

“Untuk uang? Aku serahkan sebagian kepada saudaraku yang sedang tertimpa musibah yakni Evan. Semoga uang ini dapat membantu kesembuhannya. Sebagiannya lagi. Biarkan uang ini untuk sanak saudaraku para fakir miskin yang berada di Indonesia. Aku ingin mereka besar di tanah airnya sendiri, bukan hina di tanah sendiri. Mereka harus sekolah, sekolah, sekolah, dan sekolah sampai titik tertinggi,” tegas Mora.

Masyarakat dunia terhenyak mendengar konferensi pers dari seorang pemuda Indonesia. Mereka bahkan banyak yang menitikkan air mata.Selain itu, turut andil Sekolah Mora pun menjadi buming seketika karenanya.

Sekembalinya ke Indonesia, dia pun diarak bak dewa langit. Tampak dari keramian sesosok pria penuh gaya yakni Mahar dan kedua teman seperlicikannya. Mereka pun dengan jiwa besar mengucapkan selamat atas keberhasilan Mora. Mahar pun sempat menitikkan air matanya sembari memeluk Mora.

“Maafkan aku, Mor, aku malu dengan mu, aku hina, aku hinaa,” isak tangis Mahar.

“Sudahlah Har, pelan-pelan aku sudah melupakan kejadian itu,” balas Mora.

“Mana ibu mu Mor, aku ingin bersujud dikakinya,” paksa Mahar dengan penuh haru

Tak lama, di belakang Mora pun beridiri ibunya. Mahar pun berlari sembari menangis, membungkuk bersujud di depan kakinya.

“Sudah, NAK, SUDAH … IBU SUDAH MEMAAFKANMU. Berdirilah, ungkap Ibu Mora.

Alhasil ketiganya pun berpelukan penuh haru …

* * *

 

SEKIAN

19 thoughts on “Cerpen#05 – Dari Mora Untuk Dunia

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. cerita ny menyentuh…..
    terkadang anak skrg menjadikan orang tua bahan guyonan …
    tahu kah kalian bahwa perbuatan menghina, menertawakan, dan mengolok-olok orang tua adalah dosa …

  3. Di awal cerpen ini, penulis menggunakan pencerita sudut pandang ke 3, tetapi mengapa di paragraf yang menceritakan tentang Yola “(Dan yang terakhir adalah Yola. Teman sekelasnya yang cuek, apatis akan dunia nyata. Setelah kuselidiki, karakter langka itu didapatnya dikarenakan faktor keluarganya yang kusut masai. Ibunya atheis, Papanya pemabuk berat.)” penulis tiba-tiba mengatakan, “Setelah kuselidiki…” Kenapa sudut pandang pencerita tiba-tiba berubah menjadi pencerita sudut pandang “Aku” (sudut pandang Pertama) ? Bisa dijelaskan?

    • Tanggapan dari penulis:

      Teruntuk Saudari Adinda Hikma, Terimakasih atas tanggapannya. Pada dasarnya penulis tetap menggunakan pola sudut pandang ketiga serba tahu. Penulis menyadari kata “kuselidiki” itu sebenarnya “terselidiki” (ralatnya), proses editing yg kurang cermat. Sebuah tanggapan n kritik yg baik buat penulis pribadi. Tks ya sudah sempatkan waktu tuk membaca. Salam sastra.

      • Penulis…sorry neh…
        Aq sempet cermati lg sudut pandang yg penulis gunakan. Yg dikomenin Hikmah Adinda ada betulnya juga. Ini terlihat juga diparagraf ini:
        Di konferensi tersebut ia menyaurakan bahwa lukisan tersebut terinspirasi dari seorang wanita yaitu ibunya sendiri. Selain itu, ada motivasi tambahan yang membuat lukisan ini dpat terwujud. Kalian harus tau bahwa ada beberapa orang selama ini yang tidak menyukai ku dan ibuku. Aku tidak bohong, lukisan ini berlandaskan rasa sayangku terhadap ibuku dan sekaligus rasa sakit hatiku kepada mereka para pecundang yang yang pernah menginjak harga diriku dan ibuku.

        Paragraf ini menunjukkan sudut pandang yang penulis gunakan sudah berbeda. Dari SP 3 berubah ke SP 1.
        Makasihhhh
        Sorry….pissss…

  4. Di paragraf2 awal, “Hal itu membuat bulu kuduknya merinding pilu ketika ketiga teman sekelasnya yakni (Yuke, Mahar, dan Yola) melukai perasaannya.” Pemilihan diksi “Pilu” kurang mengena. Apakah bulu kuduk bisa merasa pilu?

    • Tanggapan dari penulis:

      Tuk konteks diksi “pilu” itu permainan kata yg mengadopsi dua makna merinding bercampur pilu (sedih) karena penghinaan dri temannya. Dia merinding gak nyangka diperlakukan kya gitu dan akhirnya sedih, jadi saya istilahin merinding pilu.

      • Aq suka dan terkesan dengan kata merinding pilu. Ada satu teman yg tadi jg menanyakan kesesuaian kata itu, aq menjelaskan sesuai versiku. Ternyata aq tidak keliru mengartikan bahasa anda.
        Hanya aq keberatan dgn petunjuk lakuan yg selalu anda kurung (…). Mengapa? Apa ada maksud di balik itu?
        …..(dengan nada tinggi seraya…..) dan beberapa lainnya yang selalu anda pagari.
        Pisss….

      • Tanggapan penulis:

        “Tuk tanda lakuan yg selalu muncul sudah menjadi model gaya bahasa penulis. Pembiasaan model lakuan seperti itu karena penulis lebih ingin memperjelas dengan dramatisasi lakuan lewat gaya bahasa. Tks mbak

  5. Banyak kesalahan pengetikan dan tanda baca juga… maaf ya, tapi cukup banyak ditemukan… salam sastra juga… soalnya seru baca comment dari tadi…

  6. Apakah penggunaan tanda kurung dalam kalimat yakni (Yuke, Mahar, dan Yola) itu diperbolehkan atau tidak? Bukankah umumnya yakni dipakai untuk menyebutkan langsung sebuah hal? misalnya yakni Yuke, Mahar, dan Yola.

  7. Umumnya kriteria dalam lomba cerpen yang profesional adalah : kesesuaian cerita dengan tema, tata bahasa, pilihan kata,dan pesan moral. Disini saya melihat begitu banyak kesalahan dalam tata bahasa (tanda petik, huruf besar kecil, huruf yang disingkat, tanda titik). Pilihan kata (diksi) juga harus tepat. Diksi yang keliatan unik belum tentu tepat dalam kalimat. Sudut pandang pencerita yang berubah-rubah juga bisa membingungkan pembaca. Sayang sekali jika ide yang sudah cukup baik membuat nilai cerpen menjadi berkurang karena tata bahasa yang tidak tepat. Mungkin sebaiknya kita harus lebih cermat. Saran saya ini untuk kepentingan kita semua. Saya memuji kraetivitas dari lembaga yang menyelenggarakan lomba ini, karena dapat memberikan sumbangsih yang berharga bagi dunia pendidikan. Terima kasih.

  8. Aq pengen kasi sedikit koreksian di cerpen ini (penulisan), semoga dapat membantu
    Ini beberapa yang aku temukan di dalam cerpen ini :

    Serontak (Sontak)
    Semapat-sempatnya (Sempat-sempatnya)
    reaaksi (reaksi)
    menyikapi (menyingkapi)
    terparkir (diparkir)
    mencri (mencari)
    bagaiamana (Bagaimana)
    sahabt (sahabat)
    melupakan melupakannya (melupakannya : 2 x diketik)
    sahabtku (sahabatku)
    Suah seminggu ini (sudah)
    Sudah menjadi kehausan (keharusan)
    Ada deh, rahasi dong (rahasia)
    Wouw, main rahasia-rahasian (rahasia-rahasiaan)
    Awas kalau engga (enggak)
    Dari hasil seni lukisa (lukisan)
    dalam dunia potografi (fotografi)
    hasil dari jriih payahnya (jerih)
    Ternyat hasil seni (ternyata)
    rupanya adlah hasil (adalah)
    Alhasil, keksotisan (keeksostisan)
    berasal dari perancis (Prancis)
    mengenai hasil mahar karya tersebut (mahal)
    wanita yang sedang berkacak tangan (berkacak pinggang)
    Wanita tersebut diseksripsikan menggunakan (dideskripsikan)
    Di konferensi tersebut ia menyaurakan (menyuarakan)

    Semoga bisa membantu tim editor. Thx ya 🙂

  9. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s