Cerpen#06 – Mereka


MEREKA

 

Si kodok berbunyi. Memberitahukan kalau aku harus segera bangun dari tempat yang paling indah yang kusebut dengan persemayaman sementara. Oh iya, siapa itu si kodok? Dia adalah jam alarm yang paling berisik lebih berisik dari suara mamaku ketika aku melakukan kesalahan. Seketika aku bergegas mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah. Sekolah… ya, sekolah! Tempat yang paling aku benci. Tapi, di situlah aku harus kembali, karena sekolah sudah menjadi rumah kedua untukku.

 

Sebelum berangkat aku harus mencari mamaku. Rumahku terlalu besar untuk seekor semut yang selalu datang setiap hari dan selalu mamaku usir tiap kalinya. Ya, pondok tempat ku beristirahat menghilangkan letih dan lelah bersama ibuku tercinta.

“Ibu…!” begitu teriakku sambil mencium tangannya.

 

Kemudian bergegas aku pergi berangkat ke sekolah dengan semangat dan ketakutan yang

selalu kurasakan nyaris setiap harinya. Setiba di pintu kelas, aku merasa kakiku terpantek di lantai berduri. Auman singa begitu nyata di telingaku dibarengi taring-taring dengan tetes-tetes liurnya yang siap mencabik-cabikku. Ya, mereka temanku. Teman yang memberiku semangat, menjadikanku sangat tegar dan kuat dalam menjalani hidup. Mengajarkanku tentang bagaimana setiap hal negatif bisa menjadi positif, apabila aku bisa melihat dan mengerti dalam memaknainya.

 

“Woi, curut bau! pergi sana jangan dekat denganku. Aku mau muntah!”

Kata-kata seperti ini sudah menjadi sarapan pagi yang sangat lezat bagiku. Sapa hormat untukku dan penunda dahaga untuk kerontangnya jiwaku. Ya, begitulah! Aku adalah korban bulian di salah satu sekolah di Kota Pontianak. Padahal ibuku sudah memberiku nama dengan nama yang begitu bagus, Putri Cendana. Tapi, tetap saja aku dipangil Curut!

 

Tapi, aku yakin. Si Curut akan menjadi seekor elang yang dapat terbang sangat tinggi menggapai sejuta mimpinya.

Kring kring kring

Bel berbunyi. Terompet sangkakala seakan-akan merajam telingaku. Memperingatkan bahwa kiamat akan segera datang. Ya, kembali aku harus menerima ejekan dan kata-kata kasar oleh teman-temanku. Aku dihina, diasingkan seakan-akan aku hanya seonggok sampah yang tidak berguna dan harus segera dibuang. Tetapi kembali aku tersentak. Memahami kalau aku yang harus menjadikan mereka yang hanya bisa mengejek dan mengataiku sebagai kekuatan dan semangat kalau aku harus menjadi lebih baik dari mereka.

 

Kring kring kring…

Untuk kesekian kali bel berbunyi. Kembali kupaksakan kakiku memasuki ruangan kelas. Ruangan gelap yang kelak kuyakini akan menjadikanku matahari penerang. Di sini, di ruangan berukuran 6 x 12 meter inilah aku menggali potensi dan pengetahuan yang diberikan oleh bapak dan ibu guru sebagai orang tua keduaku, yang menjadi semangat dan inspirasiku. Ya, mereka. Mereka adalah orang-orang terbaik yang kukenal, yang membuatku mendapatkan jati diri, kepribadian, dan ilmu pengetahuan sebagai bekal hidupku nanti.

 

Kring kring kring…

Berbunyi lagi bel itu. Ini adalah bel yang aku anggap musik paling hits, terenak yang selalu aku dengar. Begitu akrab di telinga. Judul lagunya, bel pulang sekolah.

Dengan riang gembira aku pulang sembari mendengar musik rock yang disetel dari mulut-mulut usil teman-temanku. Mereka mengejekku. Suara-suara yang membuatku sakit sekaligus penyemangat bagiku, yang selalu bersiap memberiku semangat dalam mengikuti pertandingan untuk masa depan yang lebih baik.

 

“Ibu…, aku pulang…”

Seperti biasanya, kuambil tangannya dan kuciumi lagi. Ibu tersenyum tulus. Ada getar bangga melukis di wajah rentanya. Jemari tuanya pun mulai mengelus lembut rambutku seakan memintaku membagi perasaanku padanya. Mulutku pun mulai bercerita tentang apa yang aku dapatkan di sekolah.

 

Ibu dan selalu ibu. Hanya ibu yang mengerti perasaanku, mendengar keluh kesahku, dan menyemagatiku ketika aku sudah mulai lelah menjalani hari-hariku. Ibu sudah aku anggap sebagai charger paling canggih dan ampuh yang pernah diciptakan untukku. Ibu yang membuatku selalu bersyukur kepada Tuhan.

 

Lalu ayah? Ayah telah lama meninggalkan kami berdua saat umurku baru menginjak 5 tahun. Dan sampai detik ini pun aku sangat merindukan sosoknya. Sosok seorang ayah yang hebat, tegar, dan mencintai aku juga ibuku.

 

Jam sudah menunjukan pukul 15.00. Ini saatnya aku mengasah kemampuanku. Kemampuan dan bakat yang aku dapat dari hobiku mendengarkan musik. Ketika musik terdengar, jari jemariku seakan-akan ikut menari. Meliuk dan berputar sembari mencari pasangan. Dan, gitar adalah pasangannya. Ya, aku sangat senang dan piawai bermain gitar. Hampir setiap hari alat musik ini tak pernah terlewatkan. Tulang-tulang jemariku pun telah sangat hapal pada nada dan tangga mana ia harus berkarya.

 

Tiba saat perpisahan siswa kelas XII, aku mendaftarkan diri untuk mengisi acara perpisahan di hari terakhir mereka sekolah. Kesempatan itu tak akan pernah aku sia-siakan. Tanpa lagu aku bermain. Sebuah aransemen membetot setiap kelopak mata teman-teman juga guruku, memaksa mereka enggan untuk berkedip.

 

Tepukan tanggan, suitan, serta sorakan bangga menghujani di akhir penampilanku. Binar kagum memancar dari mata guru dan juga teman-temanku. Mereka menyalamiku, menepuk bangga bahuku. Juga memelukku. Aku bahagia. Saat itu, kurasa pesonaku mulai berkuasa, memainkan hati dan membentuk suatu keyakinan. Aku punya arti!

 

(Revisi: 19 Mei 2015)

Advertisements

2 thoughts on “Cerpen#06 – Mereka

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s