Cerpen#08 – PR Terakhir


PR Terakhir

Di saat seperti ini, yang dapat di lakukan oleh Ayu, gadis kelas VII SMP itu hanya berlari secepat mungkin. Jangan sampai datang terlambat ke sekolah. Dia hanya punya waktu kurang lebih 30 menit dari sekarang untuk tiba disana. Langkah kakinya menghentak di jalan berdebu. Jika ia mampu berlari cepat tanpa kelelahan, mungkinkah tiba di sekolah tepat waktu? Di sepanjang jalan, dalam kepanikan yang hebat, segala hal kini berkecamuk di benaknya, termasuk bunyi ketukan pintu misterius yang tak mau berhenti meneror, dan anehnya seakan memaksanya untuk berhenti berlari. Namun apapun yang terjadi, hari ini dia tidak boleh datang terlambat ke sekolah!

Sungguh, hari ini teramat penting baginya. Tepat jam 07.00 pagi semua murid kelas VII akan mengikuti test seleksi untuk mewakili sekolah dalam lomba pidato bahasa Inggris tingkat SMP se-provinsi. Mereka akan dinilai untuk tampil membawakan pidato sesuai dengan teks yang telah ditulis sendiri. Teks pidato ini dianggap sebagai tugas PR yang akan dimasukan ke dalam daftar nilai Writing oleh Bu Leni, guru Bahasa Inggris kelas VII. Mereka akan tampil satu per-satu sesuai dengan daftar absen. Dan hanya satu murid terbaik yang akan dipilih. Setelah lulus seleksi, murid tersebut bersama satu siswa kelas VIII yang terpilih akan mengikuti latihan yang sangat ketat dari Bu Leni selama sebulan, sebelum tampil di lomba tingkat provinsi.

Ayu benar-benar ingin membuktikan bahwa dirinya pantas dipilih. Dia telah mempersiapkan diri sebaik mungkin selama tiga minggu terakhir ini. Meskipun terkendala oleh berbagai kerikil tajam, dia tetap berusaha untuk mengikuti seleksi ini. Dan terlebih lagi meskipun, dia telah diancam untuk mengundurkan diri! Berlari semakin cepat, dadanya terasa sesak, teringat pada wajah-wajah yang mengancamnya! Semua pergolakan selama tiga minggu persiapan seleksi lomba ini, silih berganti terlintas di benaknya, mengiringi derap langkah kaki menuju ke sekolah.

Ironisnya, pagi ini ia terlambat bangun. Alarm yang disetel dengan pilihan denting Für Elise dari Ludwig van Beethoven kesayangannya macet. Atau mungkinkah ia terlampau terlelap sehingga tidak mendengar saat alarm itu berdering? Sementara jam reot di dinding kamarnya menunjukan pukul 06.15 saat ia terjaga. Seharusnya ia bangun jam 5.00! Ibu pasti sudah ke pasar untuk belanja kebutuhan dagangannya. Dan Lestari, kakaknya yang kelas IX SMP, mestinya sudah pergi duluan. Karena beda sekolah mereka memang sering berangkat sendiri-sendiri. Tapi mengapa Ibu dan Lestari tidak membangunkannya? Detik berikutnya ia pontang-panting berkemas-kemas supaya tidak terlambat dan kehilangan kesempatan mengikuti seleksi lomba pidato pagi ini!

Dia telah menulis teks pidatonya dengan secermat mungkin. Tuangan pikiran, perasaan dan perspektif sentimentilnya tentang cita-cita menjadi seorang guru. Telah di koreksi berulang-ulang, dianalisisnya ide, keselarasan kata dan kalimat berdasarkan logika dan tata bahasa yang baik. Malahan, dia menyempatkan diri pergi ke rumah Gina, siswi SMA tetangganya yang pintar dalam pelajaran Bahasa Inggris untuk membantunya mengoreksi kesalahan tulisannya. Entah mengapa, semua ide yang ingin ditulis kemudian mengalir dengan lancar. Mungkin, karena semua itu adalah refleksi cita-cita yang telah tumbuh bersamanya sejak ia masih masih kecil.

“Teks pidatoku!” Pekiknya, setelah sekian jauh berlari, “Teks pidatoku ketinggalan!” Langkahnya terhenti, terengah-engah dan buru-buru merogoh tas bututnya. Betapa lega hatinya karena teks pidato itu terselip didalam buku. Ia bergegas melanjutkan langkahnya.

Saat seleksi lomba ini diumumkan pertama kali, hatinya bergetar. Sebuah tantangan yang harus aku taklukkan, pikirnya. Meskipun tiba-tiba sebuah tembok tinggi seakan terpancang di hadapannya, dia berjanji untuk melakukan yang terbaik, mendobrak segala yang merintangi jalannya. Dan dengan seksama diperhatikannya Bu Leni menjelaskan teori cara menulis dan membawakan pidato dengan baik. Sejak saat itu, pikirannya tak pernah lepas dari seleksi lomba ini. Bahkan, setelah tulisannya rampung, di jam istirahatpun, ia menyempatkan diri untuk mengutak-ngatik teks pidatonya.

“Kedisiplinan adalah bagian dari penilaian seleksi lomba ini,“ terngiang di benaknya perkataan Bu Leni, tiga minggu yang lalu. ”Jika terpilih mewakili sekolah, wajib mengikuti latihan yang akan dilakukan setiap hari. Dan pada saat seleksi nanti, semua harus berada di ruang Aula. Kalau Ibu panggil tiga kali berturut-turut dan tidak ada di tempat, berarti sudah tidak bisa mengikuti seleksi lomba ini. Pastikan hadir di hari penyeleksian dan siap membawakan pidato masing-masing.”

Bayangannya tampak di aspal, setia dan berderap mengiringi langkah kaki, melewati tiang-tiang listrik yang menatap angkuh. ‘Kalau Ibu panggil tiga kali berturut-turut dan tidak ada di tempat, berarti sudah tidak bisa mengikuti seleksi lomba ini.’ Kalimat ini terus bergema, menghujam perasaannya. Jejeran tiang listrik yang terkelupas seakan mengejeknya, seolah tak akan pernah habis dilewati. Dan bagaimana kalau ia benar-benar sudah terlambat? Dialah yang akan tampil pertama kali karena namanya berada di urutan pertama daftar absen kelas. Bu Leni pasti akan mencoretnya dari seleksi ini. Dan sia-sialah semua yang telah ia kerjakan selama tiga minggu terakhir ini. Sudah kalut dengan pikiran ini, ia di kacaukan oleh gema samar-samar ketukan pintu misterius yang timbul tenggelam di dalam pikirannya. Tok, tok, tok, berhentilah Ayu, berhentilah berlari…Itukah makna bunyi ketukan itu, menyuruhnya berhenti berlari? Tapi mengapa?

“Awas!” Seseorang berteriak. Suara ketukan yang menyeretnya dalam lamunan itu hampir saja membuatnya tersenggol sebuah sepeda motor saat menyeberang jalan tadi. Nafasnya mulai terengah-engah. Demi Tuhan, pikirnya, mengapa bunyi ketukan pintu ini begitu mencemaskan?

Berbelok cepat di sebuah tikungan, ia tak lagi menghiraukan beberapa Ixora javanica yang tumbuh di sekitar, bunga yang selalu ia kagumi keindahannya saat lewat disini. Apa yang telah aku lupakan pagi ini, jeritnya dalam hati. Mengapa bunyi ketukan pintu itu tak mau terhapus dari pikirannya? Ia berusaha memperingatkan diri untuk mengusir suara ketukan yang terus-menerus menganggunya. Ketukan itu, mungkinkah firasat dan pertanda malapetaka yang akan menimpanya? Jika tidak hati-hati, bisa-bisa keserempet kendaraan yang lalu-lalang di jalan. Dan kalau terjadi apa-apa, PR mengarang teks pidato ini bakal jadi PR terakhir dalam hidupnya! Ia merinding memikirkan segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi padanya saat harus berlari kocar-kacir seperti ini.

Tahun demi tahun telah berganti dan pagar kayu rumahnya lapuk tersiram hujan dan menjadi saksi saat ia pulang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sejak SD. Ibu tidak mampu membelikan sepeda untuknya. Bisa sekolah saja sudah syukur sebab sejak ayahnya meninggal lima tahun yang lalu, keadaan menjadi serba sulit dan problematis bagi keluarga ini. Ibunya pontang-panting jualan kue untuk menghidupi keluarga. Ia dan kakaknya ikut membantu membuat, mengantar kue ke warung-warung dan jualan keliling. Terlambat ke sekolah memang pernah terjadi padanya, namun situasinya tidak pernah separah dan segenting pagi ini.

“Tema karangan teks pidatonya adalah tentang cita-cita kalian,” ujar Bu Leni hari itu. Seketika itu juga, di hatinya terpampang lagi sketsa cita-citanya sebagai seorang guru yang pintar mengajar dan dicintai oleh murid-muridnya. Guru, bagai sebuah lentera, goresnya dalam sebuah puisi, menerangi dalam kegelapan. Seakan terdengar klise, namun begitulah adanya sehingga ia terkagum-kagum sendiri setelah merangkai kata dalam puisi tentang guru, bukan semata karena keindahan puisi itu sendiri, namun karena dia dapat merasakan hakikat guru yang telah berjasa memberinya ilmu pengetahuan selama ini. Dan demi mewujudkan cita-citanya ini, dia berjanji untuk selalu rajin belajar. Tidak mengherankan, petugas perpustakaan telah mencatat namanya sebagai pengunjung terajin, yang melahap semua buku yang ada. Bahkan pahatan wajah Coeus, dewa lambang ‘kecerdasan dan pikiran yang ingin tahu’ mitologi Yunani yang dipajang di dinding perpustakaan sekolahpun seakan tersenyum bangga melihatnya terobsesi menimba ilmu. Sungguh, dia begitu ingin terpatri dalam puisi itu dan kelak menjadi sebuah lentera yang bersinar terang-menderang.

Saat berlari, dia teringat pada celoteh teman sekelasnya, “Pasti yang terpilih Willy atau Vanessa,”

“Belum tentu,” tukas murid yang lain, “Kalau tidak bisa menguasai pidatonya, ya percuma saja.”

“Belum tentu bagaimana? katanya Willy dan Vanessa dilatih oleh guru lesnya, Miss Jessica yang sering melatih para pemenang tahun-tahun sebelumnya.”

“Wah, kacau nih, sepertinya kita tidak ada harapan untuk menang.”

Di kusam kaca jendela kelas, dia dapat melihat ekspresi bayang dirinya terperangah, sebab harapan dan peluangnya untuk menjadi pemenang tiba-tiba ikut terpental mendengar obrolan tadi.

Awalnya memang, dia hanya ingin tampil sebaik mungkin tanpa memikirkan bakal terpilih atau tidak. Seseorang pernah mengatakan ‘sudah berpartisipasi sebagai peserta saja bisa dianggap ‘menang’, sebab ada esensi tersendiri disana. Benarkah begitu? Koq rasanya berkesan sedikit pesimis ya, pikirnya ragu. Dan mengapa hal ini tidak membuatnya puas? Seiring waktu berjalan, diapun tertantang untuk menjadi juara utama. Utama, bukan cuma jadi peserta dan tidak mendapatkan apa-apa. Ini lah dia yang sesungguhnya, pikirnya. Dan dia merasa lebih pas dan lebih baik dengan pikiran seperti ini. Namun, jika di telaah lebih jauh, memang pantaskah dia menginginkan menjadi seorang juara? Sekeping keraguan bersarang di sudut hatinya. Mungkinkah harapannya untuk terpilih di seleksi lomba ini hanya ilusinya belaka?

Termenung di pojok kelas, ia tiba-tiba menyadari bahwa selama ini, tak seorangpun pernah benar-benar mendukungnya, berada di sampingnya disaat ia membutuhkan. Apa-apa sendiri, apa-apa sendiri, desisnya dalam hati. Saat keputusasaan melandanya seperti yang sudah-sudah, seakan selalu membelah diri, berpura-pura menjadi orang lain yang menasehati diri sendiri. Tak memiliki bahu untuk bersandar, tidak seperti teman-teman yang selalu diperhatikan dan didukung oleh orang tua mereka setiap-saat-setiap-waktu, seperti saat menghadapi seleksi lomba ini. Alangkah beruntungnya mereka, dengusnya dalam hati. Iri? Entahlah, namun masih pantaskah berharap jadi juara sementara yang lain didukung dengan seribu satu cara untuk menang, sedangkan dia tertatih-tatih berjuang dalam kemelut dan gejolak kehidupan yang tak habis-habisnya. Bagaimana bisa memprioritaskan diri untuk menang dengan tangan kosong tanpa secuil dukungan seperti ini?

Peperangan psikologis berkecamuk di benaknya saat ia mencoba menepis pikiran negatif, rasa iri dan perasaan mengasihani diri sendiri yang tiba-tiba menyergapnya ini. Sungguh, dia tak ingin terjebak dalam perasaan yang dapat membuat semangatnya mengendur. Bukankah dia pernah mengalahkan Willy dan Vanessa dalam lomba baca puisi Bahasa Indonesia semester lalu? Mengapa jadi resah dan iri mendengar temannya mendapat bimbingan latihan guru les yang ternama di kota ini? Bodoh sekali aku, pikirnya, mengapa terjebak dalam pikiran yang aneh-aneh begini? Dia berusaha menyemangati diri, mengembalikan filosofi keteguhan hatinya yang sempat retak dan goyah. Aku harus berusaha dan mencoba, jangan sampai kalah sebelum bertanding, renungnya dalam hati.

“Sis, latihan sama-sama, yuk?“ Ajaknya kepada Siska, teman akrabnya suatu hari, berharap setidaknya, dengan cara ini bisa saling mendukung dan meringankan tekanan dan beban dalam seleksi lomba ini.

“Aduh,” ujar Sika, yang jadi sedikit bad mood teringat pada seleksi lomba yang dijalaninya dengan setengah hati, “Gak ada waktu kayaknya. Ntar aja deh. Seleksinya kan masih lama. Karanganku belum selesai. Lagian aku sibuk nonton film Korea. Seru, Yu, tentang first love. Benar-benar gak bisa ditinggalin. Jangan terlalu berharaplah, Yu. Paling Willy yang terpilih.”

Persiapan seleksi lomba ini membuat pekerjaan membantu ibunya jualan kue sedikit terbengkalai. Dia merengek kepada Lestari untuk menggantikannya mengantar pesanan kue. Ibu-ibu penggosip yang bertengger di teras-teras rumah lingkungan ini menganggapnya sudah mulai sinting ketika belakangan melihatnya komat-kamit menghafal paragraf demi paragraf sambil menggerakan tangannya mempraktekan gaya berpidato saat jualan keliling. Di hari lain, ia dimarahi oleh Ibunya karena sibuk mengedit teks pidato dan menyebabkan gorengannya terbakar hangus.

Di suatu sore yang temaram, saat tempias gerimis telah memburamkan kaca jendela, Ayu memetik beberapa jambu di pekarangan dan menyempatkan diri pergi ke rumah Gina lagi.

Hello, kakak cantik,” sapanya tersenyum dengan sinar mata yang berbinar-binar.

“Wah, gerimis-gerimis gini, pasti ada mau nya nih,“ Canda Gina yang saat ini sedang duduk di beranda dan sibuk main Clash of Clans di telefon genggamnya.

“Kak,” dia menjulurkan tangan, menunjukan beberapa jambu ranum yang menggiurkan di dalam tas plastik hitam, “aku punya jambu yang lezat buat Kak Gina, nih.“

“Waah, beneran nih buat kakak?”

“Tapi….”

“Nah kan, “ujar Gina, “pasti ada maunya. PR Bahasa Inggris lagi, ya? Bukannya udah selesai karangan teks pidatonya?

“Tolonglah, kak,” rengeknya, ”Teks pidatonya sudah tuntas. Ayu sudah mengerti dan hafal isinya. Tinggal pegucapan dan gayanya. Oke ya, kak. Nih jambu-jambunya, semua buat kakak cantik.”

Wajahnya memelas sehingga ‘kakak cantik’ yang sebenarnya sibuk mau meluangkan waktunya.

“Stop. Yu, pengucapan th di kata something nya salah. Coba gini, tempatkan lidah diantara gigi, somethhiing, ya, oke coba lagi, ya. Salah, koq th nya jadi f? Bukan f, tapi th! Begini niih. Nah, mata Ayu jangan suka ke atas, kayak sedang menghafal jadinya. Coba lihat ke arah penonton. Gerakan tangannya jangan terlalu banyak, Yu, alami aja, sesuai dengan isi pidatonya.”

Cakrawala kembali berbagi nuansa biru dan tersenyum kepada setiap orang pagi ini. Siapapun yang mendongakkan kepala ke atas, seakan merasa terberkati dan terinspirasi. Sementara ilalang liar bergetar ditiup angin dan tersepuh sinar mentari, kepak sayap burung di atas pucuk Pterocarpus indicus yang berjejer di tepi jalan seolah memberi semangat kepada Ayu untuk terus berlari. Dan saat ini isi pidatonya terngiang-ngiang di kepala. Everybody should have big ambition in their life. Nafasnya tersengal-sengal. Kalimat demi kalimat bergulir. From now on, we have to prepare ourselves to reach our ambition. Dia sudah tidak sabar untuk berada di aula sekolah. Dia ingin semua orang mendengar betapa memukau ide pidato yang akan dia sampaikan. Guess what, ladies and gentlemen, I would like to be a teacher! Oh, dibagian ini dia harus tersenyum bangga ke arah penonton! Dan kini, dengarlah, derap langkah kakinya bagai gemuruh suara tepuk tangan, membahana di hatinya! Berlarilah Ayu, berlarilah sekuat tenaga, jangan hiraukan ketukan pintu yang seolah mengajakmu menoleh kebelakang dan menghentikan langkahmu, Jeritnya. Sungguh, dalam segala kekalutan ini diapun kembali tersenyum cemerlang, seperti nuansa biru di atas sana.

Namun entah mengapa, beberapa hari yang lalu setelah terus-menerus latihan, belum puas juga rasanya. Dan suatu hari di sekolah, tiba-tiba timbulah sebuah ide di benaknya. Dia memutuskan untuk menemui Bu Leni.

“Ya, Ayu?” Sapa Bu Leni di kantor guru saat Ayu menghampiri mejanya. Keningnya berkerut, sibuk menyiapkan RPP dan perangkat mengajar karena akan ada supervisi dari Diknas minggu ini.

“Maaf Bu Leni,“ ujarnya terbata-bata, “Ayu,..ingin membicarakan tentang lomba pidato, Bu.”

Bu Leni meletakan tumpukan kertasnya, memerhatikan raut wajah lusuh gadis kurus ini. “Ya, duduk sini, Ayu,“ kata Bu Leni lagi, “Bagaimana, apa sudah siap mengikuti seleksi lombanya?”

“Su…sudah, Bu Leni,“ jawabnya, ”Ayu sudah selesai menulis teks pidatonya. Ayu sudah hafal dan memahami isinya dan Ayu,..Ayu sudah berlatih membawakan pidato ini, Bu. Tapi…”

Excellent, Ayu. Tapi kenapa?”

“Maafkan Ayu, Bu Leni,“ dia tertunduk dengan rambut yang tergerai menutupi wajahnya.

“Ayu,“ kata Bu Leni, “Ibu senang Ayu datang untuk membicarakan soal lomba ini. Coba ceritakan apa yang Ayu ingin sampaikan ke Ibu. Ibu akan mencoba membantu Ayu.”

“Bu, maaf, Ayu ingin Ibu melihat Ayu tampil. Ayu ingin Ibu mengoreksi kesalahan Ayu dalam membawakan pidato ini. Ayu merasa belum beres dengan penampilan Ayu.”

“Nanti, pulang sekolah temui Ibu di Aula sekolah, ya, “ujar Bu Leni. Wajahnya yang kusut gara-gara menyiapkan RPP dan perangkat jadi berseri-seri. “Ibu akan lihat penampilan Ayu hari ini.”

Di aula sekolah, dengan penuh intensitas dia membawakan pidatonya. Bu Leni memerhatikan dengan seksama gadis yang memiliki mata berkesan pelamun ini. Dia tersentuh dengan usaha yang telah dilakukan oleh Ayu. Bu Leni berpikir dalam hati, “Semangatnya membuat pembawaan pidato ini begitu memukau. Kalau tidak ada yang lebih baik, aku akan memilihnya. Ada sesuatu yang luar biasa dalam diri gadis ini.”

“Ayu, “kata Bu Leni, ”Ayu sudah tampil dengan baik dan menurut Ibu, Ayu sudah siap mengikuti seleksi lomba ini. Tapi jangan lupa, hanya satu yang akan dipilih dari kelas VII, jadi tetaplah berlatih, ya. Dan jika terpilih, harus siap dan disiplin mengikuti latihan yang ketat.”

“Ya, Bu,” ucapnya nya gembira, ”Tapi ibu belum mengoreksi kesalahan Ayu dalam membawakan pidatonya.“

Bu Leni tersenyum lalu menjelaskan bahwa Ayu tidak perlu mengkhawatirkan penampilannya dan mengatakan, supaya adil dia akan mengambil satu waktu khusus untuk mengoreksi penampilan semua murid di kelas nanti. Ayu mengucapkan terima kasih kepada Bu Leni. Semangatnya semakin membara dan kepercayaan dirinya tumbuh menjadi lebih besar lagi.

Beberapa hari kemudian, Bu Leni masuk ke dalam kelas dan diam menatap semua anak dengan ekspresi yang tidak biasa. Kelas menjadi hening. Dan prahara yang timbul setelah ini benar-benar tak pernah diduga oleh Ayu sedikitpun.

“Ibu kecewa dengan kelas ini,“ ujarnya, ”Kalian tahu, kenapa?” Murid-murid menggelengkan kepala. Dua hari yang lalu, sebagian besar orang tua murid datang menemuinya. Mereka meminta bantuan Bu Leni karena beberapa anak tidak siap dalam mengikuti seleksi lomba ini. Sebagian kesulitan mengarang, kewalahan menguasai teks pidato, takut untuk tampil dan sebagian lagi merasa tidak tertantang untuk mengikuti lomba. Ada yang merasa sudah kalah duluan dari murid-murid yang mereka anggap pintar di kelas. Beberapa memang malas dan keasyikan main game, instagram, chat di media sosial, nongkrong dan berhura-hura di mal atau nonton sinetron televisi.

“Tahukah kalian,“ kata Bu Leni lagi, “Sudah berhari-hari Ibu menunggu kedatangan kalian untuk menemui Ibu, untuk mengkonsultasikan pidato kalian ke Ibu. Ibu sengaja tidak menyuruh kalian secara langsung. Ibu ingin melihat, siapa diantara kalian yang benar-benar serius dan bermental pejuang, bermental juara dan siapa yang benar-benar memiliki inisiatif untuk memecahkan masalah yang timbul dalam persiapan membawakan pidato kalian. Bukan baru disuruh, baru bertindak. Sungguh mengherankan, hanya ada satu murid yang datang ke Ibu. Mengapa kalian tidak serius menanggapi lomba ini? Apa kalian sudah kehilangan naluri dan kepekaan bahwa ini merupakan sebuah tantangan besar yang harus kalian hadapi?”

“Siapa yang datang ke Ibu?“ Tanya salah satu murid memberanikan diri.

“Kalian tidak perlu tahu siapa dia.” kata Bu Leni terus menasehati mereka. “Sadarkah kalian, betapa besar tantangan dalam hidup yang harus kalian hadapi di masa depan. Mulai dari sekaranglah kalian harus berani dan berlatih menghadapi tantangan seperti lomba-lomba yang diadakan di sekolah: lomba pidato, matematika, olah raga, musik dan lain-lain. Bagaimana bisa menaklukan sebuah tantangan kalau tidak memiliki kepekaan bahwa itu semua adalah sebuah tantangan yang berguna bagi kalian? Kenapa kalian cuma perduli dengan tantangan dalam game-game internet?

“Dalam melihat sebuah tantangan,“ lanjutnya, ”semakin besar tantangan itu, kalian harus semakin berusaha menaklukannya. Bukannya malah menghindari dan bersikap tidak perduli. Kalau tantangan seperti ini saja kalian tidak bisa atasi, bagaimana kalian akan menghadapi ribuan tantangan hidup di masa depan? Bagaimana kalian bisa menjadi orang besar jika sekarang saja sudah menyerah sebelum bertanding? Bagaimana bisa menempatkan diri di antara pesaing-pesaing dimasa depan? Apa kalian mau jadi pecundang?”

“Jangan terbuai dan terlena dengan semua fasilitas yang sudah disediakan oleh orang tua kalian,” paparnya lagi, “jangan menjadi manja dan terjebak dengan pikiran ‘ohh semua sudah beres karena orang tuaku memiliki segalanya, jadi tidak perlu capek-capek berusaha.Mengapa jadi lengah seperti ini? Justru, dengan semua fasilitas yang sudah ada dan tersedia, gunakan dan manfaatkan untuk mendapatkan prestasi yang lebih besar.”

“Ibu benar-benar kecewa,“ ujar Bu Leni lagi, sedikit emosional, ”kenapa justru anak yang tidak memiliki fasilitas seperti kalian, yang pulang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, yang harus jualan kue membantu orangtuanya, justru anak itu yang datang ke Ibu untuk berkonsultasi dan serius dalam mengikuti lomba ini!”

Perkataan ini benar-benar membuat semua murid terperanjat. Dan saat Bu Leni keluar kelas, semua menatap Ayu penuh dengan kebencian. Siapa lagi yang pulang pergi ke sekolah jalan kaki selain Ayu? Mereka mulai berteriak, “Huuu, curang! Dasar penjilat, gara-gara dia kita semua di marahin!”

Ayu tertunduk dan menangis sesugukan di tengah caci-maki yang menghujam dan ketika bel jam terakhir berbunyi, dia mengejar Siska, yang sepertinya juga sangat gusar sekarang.

“Siska!” Teriaknya, “Siska tolonglah, jangan benci Ayu. Ayu tidak bermaksud untuk…,Siska!” Siska berjalan cepat dan kemudian berhenti karena Ayu berteriak semakin keras memanggilnya.

“Mau apa kau sekarang, Ayu,” bentaknya dengan pandangan sinis, ”Kami tidak suka caramu. Kau begitu memuakkan! kami tidak suka berteman dengan penjilat sepertimu!”

“Siska,“ desisnya, “jangan tuduh Ayu seperti itu. Ayu bukan penjilat! Ayu hanya ingin tampil membawakan pidato tanpa ada kesalahan. Ayu tidak bermaksud membuat Bu Leni memarahi kalian. Ayu hanya takut tidak bisa membawakan pidatonya dengan baik! Maafkan Ayu, Siska.”

“Kau ambisius!” Kata Siska dengan geram, “Yang kau pikirkan hanya juara, juara dan juara! Tapi caramu salah! Kau curang, menginginkan juara dan memakai cara yang sangat memalukan! Saking ambisiusnya, kau jadi penjilat. Pecundang seperti kau tak pantas jadi temanku!”

“A…apakah salah ingin menjadi juara, Siska,” jeritnya histeris. Dia merasa seperti sampah dengan semua tuduhan ini, “Salahkah itu, Siska? Semua orang ingin menjadi juara. Semua ingin memenangkan lomba ini dan Ayu rasa, tidak ada salahnya menginginkan ini semua. Tapi tolonglah, Siska, percayalah, tidak terlintas sedikitpun membujuk dan mempengaruhi Bu Leni agar memilih Ayu! Nanti Bu Leni juga akan mengoreksi kita semua sebelum tampil. Dan bukankah Bu Leni belum memilih siapa-siapa dalam lomba ini, Siska! Jangan benci Ayu…”

Sia-sia, Siska telah pergi dengan wajah yang semakin berang dan sinis. Sindiran-sindiran terus menghantamnya setiap hari, “Dengar-dengar, jika masuk final di lomba provinsi, ada wawancara dalam bahasa Inggris, kau yakin dia bisa? Aku meragukan kemampuan Speakingnya.”

“Tunggu dulu, siapa bilang dia yang terpilih? Dan kalaupun terpilih, memang bisa masuk final? Belum tentu, keles! Asal tau aja, hari ini mamaku akan datang untuk memberitahu Bu Leni supaya adil dalam memilih. Jangan sampai terpengaruh oleh penjilat dan pecundang seperti dia!”

“Teman-teman,” katanya pada jam istirahat keesokan harinya, “Ayu ingin minta maaf atas kejadian yang menyangkut seleksi lomba pidato kita. Ayu tidak bermaksud untuk…” Kelas ribut dan segala caci-maki kembali menghantamnya. Dia berlari ke bangku dan tertunduk lesu. Ketika ia mengangkat kepala, kelas sepi. Semua anak menghindarinya. Dia meremukkan teks pidato dan menghempaskannya ke lantai, seakan ingin memporak-porandakan dinding persepsi yang salah tentang dirinya. Dia benar-benar kacau dan merasa berada dalam titik terapuh dalam hidupnya sekarang. Lima menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, Siska datang mengahampiri.

“Ayu,“ Nada suaranya dingin, “Kami tadi sudah sepakat di kantin. Kami ingin memberikan sebuah tawaran kepadamu.”

“Tawaran? Siska,..eee, Maksudmu?”

“Ini menyangkut seleksi lomba ini. Kami punya sebuah pilihan. Terserah, kau mau atau tidak.”

“Pilihan? Aku tak mengerti…”

“Kalau kau mau berteman dengan kami lagi, kau harus menebus kesalahanmu. Kau harus mundur dari seleksi lomba ini!“

Ayu benar-benar terperanjat mendengar hal yang sangat tidak terduga ini, “Ke…, kenapa aku harus mundur dari seleksi lomba ini?”

“Kenapa? Pake nanya lagi! Gara-gara kau, kami semua tidak memiliki kesempatan untuk terpilih.”

“Tapi aku kan belum terpilih, Siska!”

“Sudah jelas, kau penjilat, dan kami semua yakin, Bu Leni pasti memilihmu! Kau mendramatisir hidupmu sehingga Bu Leni jadi terpengaruh! Semua orang mendengar apa yang dikatakan Bu Leni tentang kau hari itu! Sudah jelas, Bu Leni berpihak kepadamu dan dia pasti memilihmu!”

“Siska, aku tidak akan mundur dari lomba ini. Kalian semua salah tentang aku. Kalian….”

“Ya sudah kalau begitu. Tapi kau harus ingat, kami tidak akan berteman denganmu sampai kita lulus dari sekolah ini! Camkan itu! Mundur dari lomba ini atau kehilangan semua temanmu!”

Tidak, dia tidak akan pernah mundur sejengkalpun dari lomba ini! Meskipun ancaman ini telah menghempaskannya pada sebuah dilema yang amat teramat sulit. Tidak, dia tidak akan tunduk dan membiarkan satu orangpun menghalanginya. Bukankah dengan tunduk dan menuruti ancaman ini berarti membenarkan bahwa ia memang penjilat, membenarkan bahwa ia salah? Lebih baik kehilangan ribuan teman dari pada mengalah untuk sesuatu yang tidak benar. Biar, dia akan tanggung semua resiko ini, termasuk tidak memiliki teman selama bersekolah di SMP ini!

Sepatu kumal tak bermerek yang bolong diujungnya itu terus menghentak di jalan. Jarak tempuh ke sekolah seakan tak pernah berakhir dan suara ketukan itu terus menghujam, memaksanya untuk menghentikan langkahnya. Tok tok tok, berhentilah, Ayu, berhentilah berlari…Peristiwa demi peristiwa berkelebat di benaknya. Nafasnya terengah-engah dan keringat bercucuran. Saat gedung sekolah sudah terlihat, segala sesuatu berjungkir-balik di dalam pikirannya. Dan dari kejauhan, tampak beberapa orang tua yang mengantar dan menurunkan anak-anaknya dari mobil. Akh,..jeritnya dalam hati, berhasil! Aku belum terlambat! Dia terhuyung-huyung dan hampir jatuh terjerembab saat tiba di dekat gerbang sekolah. Namun, sebuah teriakan membuatnya terperangah.

“Ayuuu!” Dia menolehkan kepala kearah suara itu. “Ayuuu,” teriakan itu terdengar lagi.

“Mak?” Seorang wanita lusuh berjalan tergopoh-gopoh mendekatinya. Suara ketukan itu tiba-tiba semakin jelas terngiang di benaknya. Dia menatap wajah ibunya dengan pandangan nanar.

”Ayu..,” Ibu berkata, “mengapa Ayu memakai pakaian seragam sekolah?”

“Seragam?” Ayu bergumam sambil menatap ibunya dengan keheranan. Nafasnya tersengal-sengal.

”Mak, kenapa,..kenapa, ada apa dengan seragam sekolah Ayu?”

“Ayu,” Ujar ibunya. Air mata mengalir di wajah wanita tua itu. “Ayu lupa ya, Yu?”

“Lupa apa, Mak? Ke..kenapa dengan seragam sekolah Ayu? Mengapa mak menangis? Mak, Ayu sudah hampir terlambat!”

Wanita itu mengguncang lengan Ayu. ”Yu,…Ayu lupa kalau Ayu sudah tidak sekolah lagi?”

Tidak sekolah lagi? Tersentak dan terpana dia mendengar perkataan ibunya. Terdiam, menggelengkan kepala, kebingungan dan tak mempercayai apa yang barusan didengarnya. Wanita dengan guratan wajah penuh beban itu berkata, “Ayu lupa apa yang Mak katakan tadi malam?”

Suara ketukan di pintu itu, oh Tuhan! Ayu menutup wajahnya dengan tangan. Tubuhnya gemetaran. Mengerikan, sungguh mengerikan! Ia tidak sanggup menghadapi kenyataan ini. Ia ingat sekarang, ya, Ibulah yang mengetuk pintu kamarnya tadi malam. Setelah selesai latihan pidatonya di kamar, kelelahan dan ketiduran, ibu mengetuk pintu kamarnya berkali-kali dan memanggil namanya. Mengapa ia bisa lupa? Di antara batas terjaga dan bermimpi, ibu memaparkan bahwa hari ini ia sudah tidak bisa ke sekolah lagi. Ibu tidak mampu lagi membiayai sekolahnya. Lestari memerlukan biaya yang besar karena sebentar lagi lulus SMP dan harus masuk SMA. Ibu memintanya untuk mengalah, membiarkan kakaknya yang melanjutkan sekolah. Biaya kehidupan meningkat dan mak memutuskan untuk menyewa los di pasar supaya mereka bisa bertahan hidup.

Percuma melanjutkan sekolah lagi, kata ibu, sebab sudah pasti tidak mampu membiayai segala kebutuhan yang ada. Ibu terjebak hutang untuk menyewa los dengan lokasi strategis untuk jualan di pasar kota ini. Terpaksa, karena dagangan kue selama ini tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Biaya sekolah dan spp yang menunggakpun sudah terpakai untuk menutupi kehidupan sehari-hari. Belum lagi harus memikirkan modal dagangan di los penjualan yang baru ini. Ibu memintanya datang ke los dagangan di pasar hari ini, bukan ke sekolah.

Mengapa ia bisa lupa bahwa hari ini ia sudah tidak sekolah lagi? Yang ia tau bahwa ia, seperti hari-hari sebelumnya, harus bangun pagi dan pergi ke sekolah dengan penuh semangat untuk menggapai cita-citanya. Bagaimana mungkin ia bangun pagi dan tidak sekolah lagi? Kalaupun ingat, demi Tuhan, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk lupa, lupa, dan lupa! Sebab kenyataan ini menyakitkan, sungguh menyakitkan. Tak pernah terbersit sedikitpun dihatinya bahwa semua kerutinan yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun harus terhenti secara tiba-tiba pagi ini!

“Ayu,” seorang anak kelas VIII di gerbang memanggilnya, “masuk yuk, kita hampir terlambat!”

Ayu mendekati anak itu dan mengeluarkan teks pidatonyanya, “Niek, tolong berikan ini ke Bu Leni. Hari ini Ayu tidak masuk.”

Ayu tertatih lunglai mengikuti Ibunya. Beberapa jam kemudian, di aula sekolah, Bu Leni telah melihat semua penampilan murid. Dia kecewa dan heran karena Ayu tidak hadir pagi ini. Mengingat penampilan Ayu beberapa hari sebelumnya, sungguh, memang dialah yang terbaik dan layak untuk dipilih mewakili sekolah dalam lomba tingkat provinsi nanti. Hanya gadis ini yang mampu mengekspresikan sisi dramatis dalam teksnya secara sempurna dan memukau. Nuniek, siswi kelas VIII menghampirinya dan menyerahkan teks pidato milik Ayu. Namun, Bu Leni tidak akan pernah mengira bahwa itu adalah PR terakhir yang dibuat oleh Ayu untuk sekolah ini.

Kini sesungguhnya, gadis yang pernah bercita-cita menjadi seorang guru ini sedang tertunduk lesu, mengaduk tepung, mencampurkan dengan bahan kue dan mengangkatnya satu per-satu ke dalam penggorengan di los dagangan ibunya. Nelangsa dan murung, air matanya menetes perlahan. Meski sudah terbiasa hidup dalam penderitaan dan kali inipun masih tetap berusaha untuk tetap tegar, ia benar-benar kebingungan. Bingung dan hampa, sebab cita-cita itu tiba-tiba terenggut darinya.

Lentera itu meredup dan sketsa dirinya sebagai seorang guru perlahan memudar. Petugas perpustakaan sekolah akan berhenti mencatat namanya. Pahatan raut wajah Coeus di dinding perpustakaan itu kini seakan menatap hampa dan sepi sebab gadis yang memiliki mata berkesan pelamun ini tak kan pernah berkunjung ke sana dan mondar-mandir di sekitar rak-rak buku itu lagi.

Namun, jauh di lubuk hati, Ayu berharap semoga tidak seorangpun dari teman sekolahnya pernah mengalami kegetiran seperti yang ia rasakan sekarang. Semoga mereka dapat memanfaatkan kesempatan yang masih mereka miliki untuk menggapai cita-cita dengan sebaik-baiknya. Sebab, tanpa sebuah kesempatan dan cita-cita untuk digapai, rasanya bagai sebuah perahu yang terlepas dari tambatan, terombang-ambing dan terapung tanpa tujuan…

7 thoughts on “Cerpen#08 – PR Terakhir

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Aq tergoda saat pertama melihatmu. Saat mataku menyusurimu, benih cinta tumbuh disana. Tutur bahasamu, liuk tubuhmu, ekpresi nyatamu membuatku melambung jauh…dan sangat jauh. Lalu kuterhempas diperaduan dalam rengkuhmu yang memabukkan. Aq memilihmu!!!

  3. Gaya bercerita cerpen ini sangat memikat dengan ending cerita yang sangat mengejutkan. Memiliki begitu banyak pesan moral yang sangat berguna bagi pelajar. Nilai2 yg sangat tinggi dan menginspirasi.. salah 1 nya Kita harus memanfaatkan kesempatan yang kita miliki untuk meraih cita-cita. Bnyk orang udah berusaha, tapi gak memiliki kesempatan. Bagi kita yang masih memiliki kesempatan, jangan sampai lengah. Mantap!

  4. eee nice bgt ni cerpen, aku gak nyangka pas Ayu nyampe di skul akan ada kejutan buat dia! Kasian bgt, buat aku sedih… Iya nih, selagi masih bisa sekolah, jgn disia-siakan, jgn cuma maen game aja, jgn mentang2 ortu pny segalanya jd gak kreatif, harus bisa berprestasi….whoaaa….:)

  5. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s