Cerpen#09 – Senjata Untuk Guru


SENJATA UNTUK GURU

Hari hujan memulainya. Jendela di samping pria muda itu menjadi kabur perlahan. Pria muda yang tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya itu ada di sebuah penginapan kecil di kota yang tak jauh dari desanya.

Tak disadarinya bunyi alarm dari telepon genggamnya itu sudah berulang kali membangunkan dunia imajinasinya. Tapi, belum juga dia ingin bergegas bangun dari tempat tidurnya. Hujan hari ini bukan musuhnya, tapi teman terbaik saat ini karena sang pengangguran tak perlu terbatasi oleh jam dan bunyinya yang seperti benda paling disiplin di alam semesta ini.

Kriiinnnggg… kriiinnnggg…

Dia pun perlahan bangun dari tempat tidurnya. Seperti biasa membuka jendelanya. Memandang keluar dan mengamati suasana di luar yang baru beberapa hari ini dia amati. Hal yang sangat biasa bagi orang yang bukan berasal dari kota ini. Hari yang dingin bagi hatinya yang beku juga, pikirnya dalam hati. Disimpannya dengan hati-hati sebuah pistol di dalam saku jaket kulitnya.

“Hmmm… aku harus bergegas keluar pagi ini”, gumamnya dengan suara kecil.

Dengan cepat dia menuju keran tua dan wastafel yang seperti sudah 2 atau 3 tahun tak terurus untuk setidaknya menyegarkan wajahnya dan membasahi rambutnya yang belum siap menerima datangnya pagi. Tempat tinggal yang biasa orang di kota ini menyebutnya dengan penginapan sederhana sudah sangat membantu dia dalam tujuannya di kota ini.

Sesampainya di halaman luar yang cukup luas, hujan pun perlahan menjadi gerimis. Di depannya anak-anak sekolahan sedang berjalan dengan berbagai macam kegiatannya. Ada yang berjalan pelan dengan menggunakan payung, ada juga yang berlari cepat tanpa memperdulikan genangan-genangan air yang dilewatinya. Mungkin waktu yang sangat baik buat bermain dengan air bagi anak-anak remaja seusia mereka.

Suasana yang sama terlintas di benak pria muda itu, suasana anak-anak sekolah yang bergegas pergi ke sekolah pada pagi hari walaupun hari hujan yang bagi para penjual es mungkin hari yang tak baik bagi mereka untuk mencari rejeki.

Pria muda itu mulai berjalan menuju jalan raya yang masih tidak terlalu ramai. Berjalan di atas trotoar yang masih basah sambil mengamati suasana sekitar yang memang tidak seperti daerah asalnya. Daerah yang masih hijau dan persawahan tidak didapatinya dalam pandangan mata. Memang berbeda, hanya bangunan-bangunan semen dan beberapa bangunan pencakar langit dari kejauhan.

Dalam perjalanannya pagi itu tidak lupa sesekali mengeluarkan kertas kecil dari dompetnya yang bertuliskan alamat sebuah kafe di kota ini. Beberapa puluh meter yang dilewatinya terasa tidak seberapa jika dibandingkan dengan aktifitasnya di daerah asalnya yang bekerja sebagai petani dan nelayan.

Beberapa menit kemudian sampailah langkah kakinya di depan sebuah kafe yang sama dalam tulisan dikertas kecil yang dibawanya. Dia pun berhenti dan mengamati ke sekitarnya.

“Bro! Heiii… aku di sini”…

Terdengar suara panggilan dari seorang lelaki tua yang sudah duduk di dalam kafe kecil itu. Pria muda itupun berjalan menuju lelaki tua yang memanggilnya.

“Anda Pak Roy, kan?” tanya pria muda itu dengan wajah yang masih ragu.

“Ya, benar. Aku harap kita dapat berbincang dengan suara kecil. Aku pikir anda bisa mengerti maksudku,” jawab lelaki tua itu.

Perbincangan pun mengalir cukup hangat beberapa menit. Beberapa tegukan kopi panas yang cukup pas dengan suasana di luar kafe itu menjadi teman yang sangat tepat dalam pertemuan saat itu antara dua lelaki yang mempunyai tujuan yang tak ingin diketahui oleh siapapun termasuk kopi panasnya pun tak boleh mendengarnya. Seandainya saja cangkir kopi itu memiliki telinga untuk menjadi saksi yang bisa mendengar dan berkata maka cangkir kopi itu tak akan hanya menjadi saksi bisu.

Tak lama kemudian lelaki tua itu mengeluarkan selembar foto dari dalam saku bajunya.

“Ini dia… dia seorang guru di sekolah yang telah aku jelaskan tadi.”

“Aku harap kau bisa melakukan hal yang telah kita rencanakan dengan baik.”

“Dendam ku akan terbayar dengan hal itu.”

“Kau harus membunuh guru tersebut!!!.”

“Dan kau pun akan ku bayar dengan apa yang telah kita sepakati tadi anak muda,” dengan suara kecil dan wajah yang keras lelaki tua itu menjelaskannya.

“Ya… kau butuh uang.”

“Dan aku butuh ketenangan akan bayangan masa laluku.” “Anakku mati karena dia.”

“Kau sepakat?,” tanya lelaki tua itu sekali lagi.

“Yaaa… aku memang butuh materi saat ini, Tuan!” pria itu mengangguk yakin.

“Aku mengerti tugasku,” jawab pria muda itu dengan senyuman kecil.

Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun keluar dari kafe kecil tersebut. Sambil berjalan menuju mobil lelaki tua itu. Pria muda itu mulai bertanya “Mengapa kau sangat membenci guru tersebut?,” tanyanya dengan penuh keingintahuan.

“Heiii… anak muda.”

“Aku tahu walaupun dia tak terbukti bersalah di pengadilan atas kematian anakku tapi aku ingin dia juga merasakan bagaimana rasanya jadi aku.”

“Yang sangat kehilangan anak kesayanganku hanya karena kelalaian seorang yang dikatakan guru. Seseorang yang disebut guru. Seseorang yang sangat dihargai.”

“Tapi… tapi… di mana tanggung jawab dia sebagai seorang guru. Dia berada di lokasi kejadian saat anakku ingin menyelamatkan diri dari ruang laboratorium sekolah yang terbakar. Dan itu karna kesalahan dia!”

Lelaki tua itu masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh pria muda itu untuk masuk ke dalam mobil tersebut juga. Pria muda itu pun ikut bersama dengannya. Mereka menggunakan mobil sedan hitam untuk menuju ke satu tempat.

“Kemana kita akan pergi Pak Roy?” tanya pria muda itu.

“Aku akan mengajakmu ke sekolah tempat dimana dia berada. Dan kau tau apa tugasmu,” jawab Pak Roy.

“Tapi… darimana Anda mengetahui profesiku, Tuan?”

“Aku banyak mendengar dari kenalan-kenalanku bahwa di desa sebelah banyak orang-orang sepertimu. Hahaha…,” dengan tertawa dia mengakhiri jawabannya.

“Kau sangat butuh uang. Bukan begitu anak muda?”

“Yaaa… aku tak bisa tanpa materi di dunia ini. Percuma juga kata banyak guru saat aku berada di sekolah dasar, bahwa aku dapat menggapai cita-citaku dengan belajar. Hal yang sangat tidak berarti jika dalam kondisi ekonomi di desaku… percuma saja!”

Percakapan mereka berhenti sejenak saat Pak Roy memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah sekolah. Sekolah yang cukup besar dan mewah tampak dari luar. Pak Roy menyuruh pria muda itu untuk keluar dari dalam mobilnya.

“Aku tunggu hasil kerjamu anak muda!” kata Pak Roy kepadanya. Dan kemudian mobil sedan hitam itu pergi menjauh meninggalkan pria muda itu.

Hanya pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul di benak pria muda tersebut. Bagaimana caranya agar dapat masuk ke dalam dimana ada pos penjagaan satpam yang cukup ketat di depan sekolahan tersebut.

Pria tersebut hanya terus mengamati keadaan sekitar. Sesekali dia memegang ke dalam saku jaket kulitnya untuk memastikan pistol kecilnya masih tersimpan aman di sana.

Tak lama kemudian, dia pun berjalan menuju ke arah gerbang sekolah tersebut. Dan kemudian untuk menenangkan keadaan sekitar dia coba untuk membeli minuman di beberapa warung kecil dekat dengan gerbang sekolah tersebut. Sambil meneguk minuman kaleng yang dibelinya, dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju ke pos satpam sekolah itu.

Hanya satu hal yang ada di pikirannya sekarang ini yaitu berpura-pura sakit untuk dapat mencoba menipu satpam tersebut. Dan tugas dia saat ini harus dijalankannya demi uang yang telah dijanjikan oleh Pak Roy. Dan setelah mendapatkannya dia akan ke luar kota ini dan menenangkan diri dengan uang yang akan didapatkannya.

“Uang!…Uang segalanya sekarang… bukan mimpi dan cita-cita yang seperti dikatakan oleh pengajar-pengajar yang hanya bisa berkata-kata itu!”

“Aku tak butuh kata-kata itu sekarang!” gumamnya kecil sambil berjalan menuju pos satpam sekolah itu.

Sesampainya di gerbang sekolahan tersebut, seorang satpam menghampirinya.

“Ada perlu apa?” tanya satpam tersebut.

“Aku hanya ingin menanyakan alamat, Pak!” jawabnya dengan sopan.

Tak lama kemudian pria muda itu terjatuh tepat di depan satpam tersebut sambil mengeluarkan cairan minuman kaleng yang tadi diminumnya. Sambil memegang perutnya, pria muda itu mulai menjalankan sandiwaranya untuk dapat menipu satpam tersebut.

Pak satpam itu membawanya ke dalam pos untuk membiarkannya untuk istirahat di tempat duduk kayu yang cukup panjang. Mencoba untuk memberikannya air minum dan memberikan pertolongan pertama seperti yang biasa dilakukan kepada orang-orang yang sedang sakit.

“Terima kasih pak.” kata pria muda itu.

“Aku tak apa-apa, aku hanya merasa pusing dan mual, Pak. Mungkin terlalu lelah berjalan dari tadi, Pak.”

“Istirahatlah sebentar anak muda, jangan dipaksakan dulu,” jawab satpam itu.

“Baiklah, Pak. Tapi bolehkah aku ke belakang sebentar, Pak. Perutku sangat tidak enak sekarang,” tanya pria muda itu dengan penuh harap.

Pria muda itupun dipersilahkan untuk pergi ke arah belakang sekolah tersebut. Pria muda itu segera memanfaatkan waktu terbaik yang telah didapatkannya. Apa yang telah direncanakannya berjalan dengan baik tanpa dicurigai oleh petugas penjagaan sekolah tujuannya. Hal yang sudah direncanakannya saat berada dalam perjalanan menuju tempat mengajar guru yang akan dicarinya.

Suasana sekitar sekolah sedang sepi karena anak-anak sekolah sedang berada di kelas masing-masing untuk menerima pelajaran. Sejenak dia teringat bagaimana suasana sekolahnya dulu di desa sangat jauh berbeda padahal masih dalam negara yang sama.

Bayangan tentang sekolah di desanya pun berhenti saat dia melihat ruangan kantor guru yang cukup tertata rapi dengan meja-meja yang penuh dengan tumpukan buku dan beberapa lemari yang penuh dengan piala dan penghargaan atas prestasi siswa-siswinya.

Pria muda itu dikejutkan dengan suara seorang guru yang berada di belakangnya.

“Anda sedang mencari siapa, ya?” tanya ibu guru tersebut.

“Maaf , Bu. Tadi saya sudah minta izin dengan satpam dan ingin bertemu dengan guru kimia di sekolah ini,” jawabnya dengan sopan.

“Ada keperluan apa ya, Nak?”

“Saya ada keperluan lomba dengan beliau dari sekolah lain,” jawabnya kembali.

“Oh begitu ya. Kamu cari saja Pak Haris di ruangan sebelah sana,” jawab ibu guru sambil menunjuk ke ruangan sebelah kantor tersebut.

“Iya Bu. Terima kasih banyak, Bu. Saya ke sana dulu ya, Bu.” Pria muda itu memberikan senyum kepada ibu tersebut dan berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh ibu tersebut.

Langkahnya pria muda itu agak berat saat masuk ke ruangan Pak Haris. Dia mulai agak tegang untuk melakukan hal yang telah direncanakannya dengan Pak Roy. Dia mulai agak ragu tetapi keinginannya untuk mendapatkan uang harus segera didapatkannya. Pria muda itu hanya berpikir dengan menembaknya dan kemudian dia akan cepat pergi dari sekolah ini.

Saat dia tiba di ruangan Pak Haris, dia di sambut dengan senyuman ramah dari guru kimia tersebut. “Ada keperluan apa nak?” tanya Pak Haris.

“Aku hanya ingin menunjukkan ini, Pak,” jawabnya sambil memegang saku dalam jaketnya dan memegang pistolnya. Tapi, tangan pria muda itu seperti seakan sangat berat untuk mengeluarkan benda berbahaya tersebut. Wajah pria muda itu mulai agak kebingungan dan ragu. Keringat dingin pun mulai keluar membasahi tubuhnya.

Apa yang terjadi? Mengapa aku melakukan hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku tak boleh melakukannya di tempat ini. Aku pasti tertangkap. Tidak… tidak boleh kulakukan. Di keluarkannya tangannya dari saku dalam jaketnya dengan keadaan kosong, pikirnya dalam hati.

“Maaf, Pak,” jawabnya

“Aku hanya ingin belajar kimia dari anda. Karena aku mendengarnya dari teman-temanku di sekolah lain tentang anda. Aku mohon, Pak.”

“Wahhh, Anda ingin mendapatkan tambahan belajar ya,” tanyanya dengan senyum.

“Nak, ke rumah Bapak saja jam 7 nanti malam.”

“Ini alamat bapak,” jawab guru itu sambil diberikannya sebuah kertas bertuliskan alamat rumahnya kepada pria muda itu.

Pria muda itu segera meninggalkan sekolah tersebut dengan cepat agar tidak dicurigai oleh satpam yang menjaga di luar sekolah. Segala rencananya hampir saja berantakan saat dia akan mengeluarkan pistol kecilnya. Karena terpikir kembali olehnya tidaklah mungkin membunuhnya pada saat suasana seperti itu. Jika memang berhasil membunuhnya tetap saja dia akan tertangkap. Pikiran itu sangat mengganggu dia pada saat itu.

Senja pun akhirnya tergantikan oleh malam. Suasana kota itu masih cukup ramai dilewati kendaraan-kendaraan yang bergerak. Pria muda itu siap kembali keluar dari penginapan sederhananya dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju alamat yang diberikan oleh Pak Haris.

Beberapa menit kemudian sampailah dia di depan rumah yang cukup besar di sebuah perumahan. Pria muda itu mengetuk pintu dan memanggil Pak Haris. Dan kemudian Pak Haris pun keluar dan menyuruh pria itu untuk masuk ke dalam.

“Duduk saja nak, tadi bapak habis mengajar anak yang les juga,” kata Pak Haris kepadanya.

“Terima kasih, Pak,” jawab pria muda itu.

“Wah, bapak ncukup senang jika ada murid baru juga yang punya keinginan belajar seperti kamu, nak. Agak berbeda dengan beberapa murid di sekolah tempatku mengajar,” Tambahnya

“Iya pak. Saya juga tak menyangka kalau pak Haris mau mempersilahkan aku untuk ke rumah bapak,” jawab pria muda itu.

Tapi sebelumnya aku hanya ingin mengucapkan maaf Pak Haris. Di keluarkannya pistol kecil dari dalam saku jaketnya dan mengacungkan pistol itu ke arah Pak Haris. Tepat di depan Pak Haris.

Pak Haris terkejut dan dengan wajah agak kebingungan dia berkata kepada pria muda itu.

“Anak muda. Siapa anda sebenarnya!!!”

“Mau apa anda ke sini dengan maksud seperti ini!!!”

“Coba tenanglah dulu, nak,” Pak Haris mulai mencoba perlahan menenangkan pria muda itu.

Karena terdengar suara agak keras dari ruang tamu. Istri Pak Haris pun bergegas menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu istri Pak Haris lekas berteriak.

“Ada apa ini?!!” teriak istri Pak Haris.

Pria muda itu menoleh ke arah istri Pak Haris. Pria muda itu terdiam dan menahan pandangan matanya ke arah istri Pak Haris. Dengan wajah yang agak terkejut istri Pak Haris kemudian berkata dengan suara keras dengan wajah yang agak ragu.

“Budiii!!!”

“Kamu!!!”

“Kamu murid ibu dulu di desa sebelah kan?”

“Ada apa denganmu Budi? Apa yang kau lakukan sekarang?”

“Lepaskan senjata api itu, Budi!!!”

“Apa maksudmu dengan senjata api itu?”

Pria muda yang dipanggil Budi itu belum juga melepaskan senjata api dari genggaman tangannya. Dan masih menyentuhkan jarinya ke senjata api tersebut. Tak lama kemudian suara letusan senjata api pun terdengar mengoyak suasana ruang tamu itu.

“Dooorrr!!!!!!!!!”

“Prrraaannnggg!!!!!!!!!”

Pria muda itu menembakkan senjata apinya ke salah satu sudut ruangan dan mengenai kaca jendela ruangan tersebut. Kaca jendela ruangan tersebut pecah berkeping-keping jatuh ke lantai.

Suasana seketika hening beberapa saat. Pria muda itu kemudian menjatuhkan senjata apinya ke lantai dan duduk dengan badan yang lemah dan seakan-akan menyesali perbuatannya. Wajah pria muda itu tampak kecewa dengan dirinya sendiri dan air matanya pun tak dapat tertahankan.

Sambil menangis dia mengakui bahwa dia adalah Budi dari desa sebelah. Murid yang pernah diajar oleh istri Pak Haris saat masih sekolah dasar.

“Maafkan saya… maafkan saya, Bu,” sambil menangis pria muda itu meminta maaf.

“Ibu benar. Aku Budi, Bu. Murid ibu saat masih sekolah dasar dulu di desa sebelah,” tambahnya.

“Mengapa kau melakukan ini, Budi? Jelaskanlah dengan tenang,” Istri Pak Haris bertanya sambil memegang pundak pria muda itu yang masih saja menangis.

“Aku… Aku hanya ingin mendapatkan uang. Aku ingin membunuh Pak Haris hanya karena uang yang telah dijanjikan oleh Pak Roy. Maafkan saya, Bu. Ini semua kebodohanku. Aku telah dibutakan hanya karena uang,” pria muda itu menjawab dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.

Istri Pak Haris adalah guru yang paling dekat dengan Budi pada saat masih sekolah dulu. Dan Budi adalah murid yang pernah dianggap seperti anak sendiri pada saat masih sekolah dasar. Bahkan Budi pernah berjanji kepada istri Pak Haris untuk tidak menjadi preman ataupun pengangguran jika dewasa nanti. Tidak ingin seperti pemuda-pemuda di desanya yang sangat dikenal dengan dunia kriminalitasnya. Karena kedekatan tersebutlah yang membuat istri Pak Haris yakin bahwa Budi bukanlah pemuda yang tidak baik.

Budi memang berasal dari desa sebelah. Pemuda-pemuda di desa itu sangat kurang berpendidikan dan banyak yang jatuh ke dalam dunia kelam yang membawa mereka ke hal-hal yang tidak benar. Apa yang dilakukan Budi hanyalah karena uang yang telah membawanya untuk melakukan apapun hanya demi materi yang juga sangat susah didapatkannya di desanya sendiri.

Kejadian pada hari itu membawa Budi dan Pak Roy untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya ke dalam lembaga peradilan. Hal yang tak seharusnya dilakukan oleh Budi. Segala hal-hal positif yang telah didapatkannya dalam dunia pendidikan terbutakan oleh materi. Materi yang susah didapatkan di desanya.

Kehidupan harus tetap terjaga dalam keseimbangannya. Materi dapat membayar pendidikan dan ilmu yang didapatkan seseorang tetapi pendidikan juga harus mampu mengendalikan rasa haus dan buta akan materi di dunia ini. Materi tak abadi tetapi pendidikan akan menjadi materi kehidupan sampai kapanpun.

Advertisements

8 thoughts on “Cerpen#09 – Senjata Untuk Guru

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s