Cerpen#10 – Aku


AKU

Mereka menyebutnya Guru. Guru sang tanpa tanda jasa. Sangat dihormati dan dihargai oleh kehidupan disekitarnya. Tak hanya mengajarkan sesuatu yang baru tapi selalu mendidik untuk selalu bersikap sopan terhadap lingkungannya. Ilmu yang bermanfaat membuatnya selalu dihargai dimanapun berada hingga kelak di alam kedua. Itu semua inspirasi yang membuatku ingin menjadi seorang guru. Tapi semua itu dapat ku baca karena inspiratorku adalah Ayahku.

beliau selalu berkata “ Jadilah seseorang yang bermanfaat untuk orang lain. Karena kita juga membutuhkan orang lain. Tak ada kata malas untuk melakukan sesuatu hal, bagi PEMENANG tak ada kegagalan, yang ada hanyalah pelajaran”. Kata itu selalu ada dalam setiap detikku. Aku hanya berfikir apa yang bisa ku lakukan untuk orang lain???

Ayah selalu mengajarkan anaknya untuk selalu berbagi selama kita merasa bahwa diri kita mampu. “Erna” adik bungsuku yang sekarang duduk dikelas 5 SD yang bagiku mewarisi sifat dari Ayahku. Sifat yang tak tega membuat Adikku selalu membantu orang tanpa melihat karakteristik orang tersebut. Kagum dengannya, tapi semua itu tak mudah. Ketika Aku sedang menjalani aktivitas sehari-hari sebagai mahasiswa. Ku kerahkan semua kemampuanku untuk menggapai semua angan yang ada dibenakku dan harapan keluargaku. Aku mengambil strata satu di fakultas keguruan dan ilmu Pendidikan. Pilihan ini aku ambil karena sang inspiratorku. Ku ingin sepertinya dan mungkin lebih baik darinya agar ku bisa menjadi kebanggannya.

Keinginan yang membuatku semangat untuk menjalani aktivitas ini. Di kampus orange itu aku banyak bertemu dengan sanak saudara. Setiap harinya ku melihat banyak orang beraktivitas selain menjadi mahasiswa. Banyak dari mereka mencari rezeki, mulai dari berdagang di kantin, berjualan makan keliling, penjual koran sampai pemulung. Hati ini kadang merasa teriris ketika melihat sosok penjual koran atau bahkan pemulung yang menurutku tak semestinya mereka melakukan itu. Mereka sosok yang manis dan menurutku bisa untuk melakukan hal yang lebih baik.

Ingin sekali rasanya menjabat tangan mereka untuk bersama melangkah menuju yang lebih baik. Tapi apa yang bisa ku lakukan saat ini, aku yang juga tak lebih dari sederhana tak bisa berbuat apa-apa. Mereka membuatku terinspirasi untuk menjadi orang lebih baik.

Keinginan untuk tahu kehidupan mereka, pernah sempat ku ajak bercengkrama salah satu penjual koran yang usianya masih kisaran sepuluh tahun itu yang awalnya aku memanggil dia karena ingin membeli korannya ”Dek, sini…korannya donk satu”. Seperti halnya orang yang baru pertama bercengkrama, aku menanyakan namanya. “Jatmiko, namaku kak”. Karena rasa ingin tahuku tentang kehidupannya, aku mengajak Jatmiko untuk ngobrol denganku sebentar. “Sini sih dek,,kakak pengen ngobrol sebentar” sapa ku ketika ia hendak pergi setelah ku menanyakan namanya. “Kenapa kak???” sahutnya. “Kamu jualan koran pagi-pagi  begini memangnya kamu gak sekolah ya dek” ku menanyakan dengan mimik penasaran. Jatmiko pun menjawab,”Sekolah donk kak….”

“klo kamu sekolah,,, kenapa kamu jualan Koran??? Trus kapan kamu sekolahnya???”

“ Saya sekolahnya siang… Saya jualan seperti karena saya ga punya duit kak buat ongkos dan jajan saya klo disekolah”

“Memangnya orang tua kamu ga ngasih uang untuk kamu pergi sekolah atau untuk kamu jajan???”

“Ga kak…. Ibu hanya kerja sebagai tukang gorengan dan bapak saya hanya kerja serabutan..”

“Kamu sekolah kelas berapa dek”

“Kelas 5 kak”

“ Pelajaran apa yang kamu sukai klo lagi disekolah????”

“Matematika kak…”

“Pinter donk ya matematikanya…??? Trus cita-cita kamu apa???”

“Aku pengen jadi polisi kak”

“Oya..trus klo kamu buat berangkat sekolah aja mesti jualan koran dulu biar bisa bayar angkot… Gimana kamu beli buku dek????”

“Aku ga punya buku kak,,, klo ada PR aku pinjem buku temen dan menyalin soal dari buku itu…”

“Trus kamu ga pernah belajar donk????”

“Ya belajarnya dari buku tulis yang aku punya dan aku selalu belajar apa yang diajarin guru saat disekolah”

“Ooohh gtu… Semangat ya dek buat mengejar mimpimu itu. Tuhan pasti akan member jalan jika kamu benar-benar berusaha untuk meraihnya. Jika kamu merasa hilang semangat, pertama yang kamu ingat adalah orang tua, dengan begitu kamu bakal semangat lagi karena kamu harus punya pendirian untuk selalu bikin bangga mereka”

Terenyuh ketika aku mendengar kisah Jatmiko. Semangatnya begitu besar untuk mencapai cita-citanya namun keadaan membuat dia harus berjualan koran untuk menggapainya.

Ada sosok penjual koran yang lain yang membuatku merasa bersyukur dengan keadaanku sekarang. Inilah kehidupan, kisah seorang penjual Koran bernama Shifa. Gadis ini kurang beruntung hidupnya hanya sebatang kara. Setiap harinya ia selalu berjualan koran untuk menghidupin dirinya, usianya masih terlalu dini 12 tahun. Dan pendidikan terakhirnya hanya cukup untuk membuatnya membaca.

Aku hanya bingung, bagaimana bisa Shifa menjalani hidup tanpa ada yang memberi semangat? Hanya berfikir, apa aku bisa jika menjadi adik kecil itu??? Ku sempat menanyakan kehidupannya seperti yang ku lakukan kepada Jatmiko. Ketika aku sedang bersama Shifa, aku sedang memegang sebuah novel. Shifa melihat sampul novelku seperti hendak ingin membacanya. Aku pun langsung menanyakan kepadanya “ Apakah kamu ingin membacanya dek??” dan dengan senyum lebarnya Shifa menjawab “Ya kak…”. Aku pun meminjamkannya untuk dibawa pulang dengan syarat harus dikembalikan lagi. Keesokan harinya dengan semangat berlari dari kejauhan Shifa menghampiriku untuk mengembalikan novel tersebut.

Ketika itu, aku pun sedang memegang novel dengan judul lain. Shifa pun kembali melirik judul novel tersebut. Tanpa rasa segan, dia meminta izin untuk meminjam novel lagi. Dengan semangat dia seperti itu, aku pun kembali meminjamkannya. Kita pun semakin akrab karena rutinitas kita yang sering bertemu. Hobi dia yang selalu ingin membaca, akhirnya ketika aku berada dalam keramaian bazar buku, aku membelikan dia sebuah novel. Ketika ku memberikan novel itu, gadis itu tersenyum kegirangan hingga melompat-lompat. Aku pun ikut merasa senang melihat senyumnya.

Dari kisah-kisah tukang koran citaku yang ingin selalu membantu orang lain semakin meluas. Citaku ini ingin benar-benar ku laksanakan dengan keinginan membuka yayasan belajar atau taman baca gratis untuk mereka yang kurang beruntung ketika aku sudah sukses nantinya. Ketika citaku ini menjadi nyata, mungkin ini yang bisa kupersembahkan buat kedua orangtua karena penyesalanku yang tak bisa membalas semua pengorbanan beliau kepadaku selama ini rasakan bahwa didikan Ayahku membuatku untuk lebih mandiri dan membuatku hidup lebih bermakna untuk orang lain.

Sedikit demi sedikit aku belajar bagaimana tanggung jawab. Aku sendiri merupakan anak sulung yang menjadi harapan keluarga.

Advertisements

4 thoughts on “Cerpen#10 – Aku

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s