Cerpen#11 – Pendidikanku Cita-Citaku


Pendidikanku Cita-citaku

Sambil berjalan, memandang sekitar dimana saat-saat terindah itu begitu masih terasa nyata, seperti semua masih berada dimasa itu, begitu dekat, kenangku dalam hati. Sejauh mata memandang setiap sudut tempat dimana kedua kaki ini pernah singgah. Suara tawa canda yang nyaring terngiang sesaat kedua mata ini tertuju pada suatu ruangan kelas.ya, itulah kelasku dulu, “ucapku”.

“ya benar, disinilah aku bersama-sama teman-temanku belajar dan mendapatkan apa yang namanya pendidikan”, kataku dalam hati. Kenangan itu membuatku terdiam sesaat dan merasa aku pernah benar-benar merasa pernah berada dimasa itu. Jujur ku akui, tak ku mengerti sedikitpun apa yang dulu kupikirkan hingga begitu kubanggakan, ku impikan dan menjadi cita-citaku, hingga aku yang sekarang ini begitu berbeda.

Sekolah adalah suatu tempat yang menyenangkan dalam pikiranku sejak kecil, bermain, memiliki banyak teman adalah hal yang asik menurutku. Suatu tempat yang bisa membuatku semakin yakin bahwa apa yang saya inginkan dapat terwujud. Hingga saat ini masih terbayang begitu menyenangkannya sekolah saat kecilku. Memang sejak kecil bercita-citaku menjadi dokter, yang bisa menyembuhkan orang lain jika sakit. Dokter bagiku seorang pahlawan yang memiliki banyak ilmu, dengan keahliannya, maka penyakit dapat disembuhkannya. Aku ingin seperti itu, “pikirku”. Maklumlah, anak kecil semasaku punya impian hanya sebatas dokter, bahkan beberapa teman-temanku juga bercita-cita yang sama denganku.

Awalnya, semua itu dapat berjalan seperti biasa. Namun hingga saat semua itu mulai berubah seiring semakin tingginya tingkat pendidikanku. Saat duduk di bangku SMP, menjadi tanda tanya besar “apakah semuanya masih dapat terwujud?”tanyaku dalam hati dengan sedikit keraguan”. Saat itu bukanlah hal yang mudah bagiku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan untuk menjadi nyata. Ujian nasional yang wajib di ikuti menjadi awal mula membuat hati ini merasa bertanya-tanya, mengapa harus ada ujian nasional? Bukankah harus nya kita dapat memilih apa yang kita senangi saja, bagaimana kalau kalau aku gagal?masihkah cita-citaku dapat terwujud jika aku gagal?”tanyaku dalam hati”.

Sedikit demi sedikit, ku mulai susun kembali memori tentang hal-hal yang pernah ku lakukan dan setiap usaha dalam mewujudkan cita-citaku. Terutama saat harus menghadapai ujian nasional Semua itu tidaklah mudah jika tanpa usaha keras, pendidikan begitu penting dalam menunjang kesuksesan dalam bidang apapun. Sikap tegas dan kerasnya guru dalam membimbing membuatku semakin yakin apa yang akan kudapatkan nanti. Tak ada sedikitpun keraguan akan niat baik guru-guruku dalam memberikan ilmunya dalam mendidik maupun mengajar. Pendidikan di Indonesia memang menuntut kita untuk mengetahui banyak hal meskipun tanpa sadar bahwa tidak semuanya itu berguna bagi kita.

Masih terngiang di telingaku kata-kata seorang guru bahwa ujian nasional tahun itu tetap diadakan, namun itu bukanlah penentu kelulusan karena kelulusan akan ditentukan sekolah masing-masing. Senang dan seperti masih tidak percaya hingga membuatku mencari tahu sendiri lewat internet. “wah, ternyata benar! apa yang diceritakan itu benar adanya…” teriakku”. Aku merasakan senangnya bukan main.

Meskipun aku termasuk anak yang cukup pintar di mata guru-guruku di sekolah, namun perasaan cemas tetap saja membuat segala perasaan dalam diri ini takut. Selalu saja kepikiran utnuk tetap bisa melewati ujian kali ini dengan nilai bagus dan kalau bisa nilai sempurna. Tidak ada halangan bagiku untuk bias memperoleh nilai sempurna meskipun keyakinan akan lulus sangat besar, “ pujiku dalam hati”.

Ujian nasional yang tiap tahun menjadi momok yang menakutkan, karena sebagai syarat kelulusan dari sekolah. Apakah masih harus sekolah selama tiga tahun , ditentukan oleh ujian yang hanya beberapa hari saja? “Ucapku dalam hati dengan kesal”. Ujian selalu menarik untuk membuat setiap siswa sekolah menjadikan itu ajang untuk pembuktian diri atau apalah namanya. Mungkin juga hanya ingin mendapatkan nilai tertinggi dan ada juga yang hanya ingin sekedar lulus saja tanpa peduli hasilnya.

Apalagi sekarang banyak cara untuk mendukung memperoleh nilai bagus. Cara apapun akan dilakukan untuk memperolah nilai tertinggi atau hanya tinggi dengan berbagai cara. Bisa saja seseorang mencari jawaban dengan membeli kunci jawaban soal yang tidak diketahui asalnya dan belum tentu kebenarannya, ataupun ia benar-benar mencari dari buku maupun internet tentang penyelesaian soal-soal yang sulit. Tapi, bagiku keberhasilan dari hasil kerja keras tentu lebih memuaskan hati, “ucapku”.

Bukan tidak sedikit cara yang bisa dilakukan untuk mendapat hasil yang diinginkan. Sungguh hal yang tidak perlu dilakukan jika semua belajar dengan benar. Aku sendiri tidak mau hanya sekedar lulus saja, membanggakan orang tua dan guru dengan nilai yang bagus harus bisa kuwujudkan.

Kasihan juga teman-teman yang memang kekurangan dalam kemampuan belajarnya, kan tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Aku bersyukur, karunia ini membuatku selalu membantu teman-temanku yang kesulitan belajar. Tentu aku ingin semua dapat memperoleh nilai yang bagus dan lulus seratus persen dalam angkatanku. Apalagi waktu kebersamaan ini segera pergi. Semua itu sekarang tinggal kenangan, semua telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Saya bersyukur bahwa kami dapat melewati itu semua.

Sempat terpikir olehku dulu, “kenapa kita belajar begitu banyak jika hanya untuk dilupakan?”. Apakah guru-guruku juga sama dengan apa yang kupikirkan? ”tanyaku lagi dalam hati”. Tetapi semua tetap harus diikuti, hanya percaya dan selalu semangat adalah cara yang selalu ku lakukan. Tidak akan ku peduli apapun, asalkan semangat untuk menggapai cita-citaku terwujud. Belajar ternyata membuatku mengerti akan banyak hal, mengetahui apa yang tidak ku ketahui, mendapatkan apa yang belum ku miliki dan terlebih lagi memberi energi positif bagi pikiran dan hati. Otakku pasti akan menjadi lebih hebat jika aku belajar banyak hal seperti ini, “cetusku”. Bagiku belajar adalah hal terpenting dalam hidup ini, itulah aku.

Saat itu, masih ku ingat kebersamaan selama tiga tahun yang kami lalui akan segera berakhir. Beberapa temanku akan melanjutkan sekolah di luar kota, ada juga yang ke luar negeri mengikuti tugas kedua orangtuanya, bahkan, aku sendiri juga akan pindah ke kota lain.

Kebersamaan dengan teman-temanku akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Hal hal yang telah kami lalui bersama, banyak hal lucu dan konyol kami alami. Memang keluargaku menginginkan aku untuk melanjutkan pendidikan di Semarang.

Kaki ini masih terus melangkah sembari semua kenangan ini terus juga mengikuti. Teman-temanku yang sama, yang pernah juga mengeluh akan semua yang diperoleh di bangku sekolah. Tidak dipungkiri, mereka juga dapat mengatakan bahwa mereka juga berhasil dan bukan karena mereka belajar dari sekolah. Dapat dibenarkan jika memang sekolah dengan pendidikan tinggi bukan harapan mereka tapi orang tua mereka. Mewujudkan keinginan orang tua lebih mulia daripada mereka mewujudkan cita-citanya, apalagi jika kegalanya dimiliki, sekolah menjadi hal tidak wajib. Andaikan bisa seperti itu, ya wajar-wajar saja jika begitu. Iri rasanya melihat keadaan itu, “kataku dalam hati”. Bagiku, yang hanya orang sederhana, tentu ini sangatlah berbeda, tidaklah adil rasanya jika ingin menyalakan sistem pendidikan yang ada, tidak ingin juga menyalakan keadaan, apalagi nasib.

Ternyata pendidikan dengan cita-cita tidak selalu sejalan, mereka yang hanya biasa-biasa saja dengan adanya kekuatan finansial orang tua mereka, apapun yang mereka inginkan dapat terwujud. Tidak perlu pendidikan yang tinggi dengan biaya mahal.

Sebaliknya, bagiku pendidikan adalah jalan mewujudkan cita-citaku. Impian dan kebanggaan akan seorang dokter menjadikan semua semakin termotivasi. Percaya dan selalu berdoa membuat semua ini menjadi lebih mudah.

3 thoughts on “Cerpen#11 – Pendidikanku Cita-Citaku

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Bagus….real banged ceritanya. Jadi keinget diriku yang seutuhnya!!!
    Napa seh tindak lakuan/ucapan mesti dalam tanda petik? Dikurung ye… Takut lepas neh ye…
    …. “cetusku”
    … “pujiku dalam hati”
    Ntar dibold…diitalic…plus diunderline aja… Wkwkwkwk biar ndak lepas lepas. Biar nempel abis..
    Piss ye….

  3. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s