Cerpen#12 – DAMI


DAMI

Gadis itu diam terpaku menghadap ke arah halaman sekolah. Ia berdiri tepat di ujung selasar gedung yang baru di bangun di komplek sekolah di lantai 5. Tinggi semampai dengan rambut panjang sebatas pinggang menjadikan gadis itu terlihat menarik. Tetapi aku tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya di sekolah. Apakah dia anak baru, siswa pindahan atau apalah.. Sepertinya hanya ada kami berdua di lorong itu.

Siang itu aku memang sengaja berjalan-jalan untuk melihat keadaan gedung yang baru dibangun di sekolah. Aku memang selalu penasaran dengan hal-hal yang baru atau tampak aneh dan unik. Bagiku, semua itu seperti sebuah tantangan yang menggelitik rasa ingin tahu.

Aku melangkah ke arah gadis itu, berniat menyapa. Gadis itu menoleh… Deg! Jantungku terasa ingin berhenti. Kulit wajahnya terlihat pucat seperti tanpa darah. Ketika kulihat dia tersenyum, aku memberanikan diri untuk melanjutkan melangkah. “Sendirian ya?..” Sapaku, sambil mengutuk dalam hati kenapa aku bisa mengucapkan pertanyaan bodoh itu.. Jelas-jelas dia sendirian.

Gadis itu hanya tersenyum. Matanya menatapku.. Tetapi, ada yang aneh dengan sorot matanya. Seperti kosong… “Namaku Bass, kamu anak baru ya?..” Ia mengangguk sambil tetap tersenyum, kelihatan ramah. “Aku Damiana, panggil aku Dami…” jawabnya. Nama yang aneh pikirku, seperti berasal dari sebuah negeri antah berantah. “Kamu di kelas mana?” tanyaku lagi. Dami hanya tersenyum. Senyum yang aneh menurutku. Misterius.. Kucoba mengalah dengan rasa penasaranku untuk tidak mengulangi pertanyaan tadi. “Trrrrrrrriiiiiinggggg!!!!!” bunyi bel tanda usai istirahat menyentakku. “Maaf Dami, sepertinya aku harus kembali ke kelasku di lokal sebelah” kataku. Tiba-tiba tangannya bergerak memegang lenganku, menahanku untuk melangkah. Aku menatap matanya. “Bass, esok aku akan di sini lagi, maukah kau menemuiku kembali?” “Tentu..” sahutku. Dami kembali tersenyum, tetapi sorot matanya tetap kosong. Aku sedikit bergidik, tapi tidak menghapus rasa sumringahku. Ya, baru kali ini ada seorang gadis yang memintaku bertemu di tempat sepi. Hanya berdua..

Esok harinya kutemui Dami di tempat biasa, lantai 5 gedung baru yang memang belum ditempati. Kami berbicara banyak hal, walaupun aku yang selalu memulai pembicaraan dan aktif bertanya. Awalnya hanya sekedar basa-basi klise. Lama kelamaan pembicaraan kami mulai mengarah tentang siapa sebenarnya dia. Dari situ aku mulai tahu kalau Dami adalah alumni sekolah ini. Tetapi dia tidak pernah menyebutkan tahun berapa dia tamat. Aku pernah beberapa kali bertanya, tetapi hanya dijawab dengan senyuman. Senyum yang aneh. Awalnya kupikir Dami seumuran denganku, ternyata usianya lebih tua. Namanya juga alumni. Yang jelas dia pasti tamat sebelum aku masuk ke sekolah ini, karena aku tak pernah melihatnya sejak tahun pertamaku. “Trrrrrrriiiiiiingggg!!” bel kembali berbunyi, pertanda aku harus kembali ke kelas.

Dami kembali memintaku untuk menemuinya esok hari. Bukan main girang hatiku. Rasanya seperti berbunga-bunga, aneh. Kukatakan padanya bahwa akan selalu berada di gedung baru ini setiap jam istirahat kedua, sehingga dia bisa bertemu denganku setiap saat di pada jam-jam itu.

Sejak saat itu kami selalu bertemu, hingga seminggu kemudian salah seorang teman sekelasku heran di mana aku setiap jam istirahat kedua. Aku selalu tidak berada di kelas, di kantin, ataupun di perpustakaan. Ya, seminggu ini aku memang merahasiakan pertemuanku dengan Dami. Aku tidak mau terganggu. “Ayolah Bass, ajak aku.. Kau bisa mengenalkan aku padanya..” rengek sahabatku, Darwin. “Baiklah. Tapi setelah kukenalkan kau padanya, harap kau tidak menggangguku dan tinggalkan kami berdua. Kau kan tahu sendiri kalau aku belum pernah dekat dengan seorang gadis…” akhirnya aku luluh juga. “Siplah..” ucap Darwin. Akhirnya kuajak Darwin menemui Dami.

Gedung itu bergema ketika kaki-kaki kami melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai 5. Selain itu sepi. “Dimana dia?” tanya Darwin ketika kami sampai di lantai 5. “Tenang, dia ada di ujung lorong sedang menantiku… hehehe”. Aku sengaja menyombongkan diri pada Darwin biar dia tahu kalau aku juga bisa dekat dengan seorang gadis, tidak seperti dirinya yang sering ditolak cintanya.. “Hmmmm..”

Dari jauh aku sudah melihat Dami berdiri di ujung lorong menghadap ke halaman gedung. Seperti biasa ia seperti sedang melamun, entah apa yang dilamunkannya. “Dami!!” teriakku. Dami menoleh, dan tersenyum menyambutku seperti biasa. Sorot mata Dami langsung mengarah ke Darwin. Seolah bertanya-tanya. “Mana..? Siapa yang kau panggil, Bass? Aku tidak melihat seorangpun di sini…” ucap Darwin. Aku heran… Jelas-jelas Dami berdiri tepat di depan kami. “Apa matamu buta?? Ini Dami.. Dami, ini Darwin sahabatku. Maaf aku lancang membawanya kemari, soalnya dia memaksaku untuk mengenalkanmu padanya…” Dami tersenyum, senyum yang aneh bahkan mungkin paling aneh yang kulihat semenjak mengenalnya.

“Hei, kau ini bicara dengan siapa Bass??! Apa kau sudah gila? Tak ada seorangpun di sini, hanya kita berdua. Mana cewek yang kau bilang itu??” Darwin setengah berteriak sambil matanya mencari-cari. Aku mulai kesal, tapi juga merasa ngeri. Aku sudah lama bersahabat dengan Darwin, dan dia tak pernah bergurau berlebihan seperti ini. Apa yang dikatakan Darwin ini benar? “Win, lihatlah baik-baik.. Gurauanmu tidak lucu tahu!!” “Tapi aku tidak sedang bergurau, Bass.. Aku memang tidak melihat siapapun di sini..”

Deg, jantungku serasa berhenti. Sepertinya Darwin memang serius. Wajahnya mulai pucat. Keringat dingin membasahi keningnya. Tiba-tiba aku merasakan leherku dipegang seseorang. Ternyata Dami. Dingin, Tangannya mulai erat mencengkeram leherku. “Dami, kau mau apa??” tanyaku. “Apa yang kau lakukan…??” “Bassssssh…..Bassssh, Brrrrraaaaaasgggghhh…” Sekejap suara Dami mulai berubah parau. Apa yang terjadi?? Ada apa ini??. Nafasku mulai sesak. Tangan Dami mencengkeram sangat kuat sekali. Aku meronta-ronta. “Dddddammmmi, tttolong.. Lepppassss.. Aaaaakkkkh, okhhhh…” Aku merasakan tubuhku terangkat. Ternyata tangan Dami yang memanjang ke atas sambil mencekik leherku. Mataku mulai berkunang-kunang. Oh Tuhan, sepertinya inilah akhir hidupku. Darwin terperangah, tubuhnya bergetar… “Bass, kkkau..kkau..hhhh…hhhhh… Hantuuuuuu!!!!!” Darwin berteriak keras dan langsung berlari meninggalkanku. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Aku mencoba membuka mata, berat. Samar-samar kulihat seberkas cahaya lampu. Sepertinya lampu ini terang sekali, bukan seperti di kamarku. Di mana aku? Kucoba menggerakkan kepalaku, rasanya sakit sekali di bagian leher. Ada sesuatu yang menahanku. Lamat-lamat kudengar suara seseorang sedang menangis. Ada lagi suara seperti sedang melantunkan ayat-ayat suci.. Dimana aku? Apa yang terjadi denganku? Tiba-tiba ada suara yang terasa dekat sekali di telingaku. “Bassssshhh….Bassssh…” Sepertinya aku kenal suara ini. Ya Tuhannn…! Sepertinya aku tahu apa yang sudah terjadi. Seketika mataku terbuka, entah karena kekuatan apa. Dan kulihat, seseorang berbaring melayang di atas tubuhku. Tetapi, Itu…Ituuuu.. Itu..“DAMI……!!!!!”

3 thoughts on “Cerpen#12 – DAMI

  1. Pingback: Vote Cerpen Pilihanmu – Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

  2. Seru. Simple. Keren. Manis.
    Aroma horornya bikin penasaran…
    Genre yg beda bgt dari cerpen sebelumnya. Like it dech pokoknya…

  3. Pingback: Juara Lomba Cerpen Guru | Tunjukkan POTENSI TerbaikMU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s